Jumat, 29 Mei 2015

KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, dan tugas guru adalah sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyelidiki kondisi belajar yang optimal dapat dicapai jika guru mampu mengatur peserta didik dan sasaran pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengaturan yang berkaitan dengan penyampaian pesan penngajaran (instruksional) atau dapat pula berkaitan dengan penyediaan kondisi belajar (pengelolaan kelas). Bila pengaturan kondisi dapat dikerjakan secara optimal, maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dapat disediakan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar.

Kondisi belajar yang optimal dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam situasi yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Akan tetapi apabila terdapat kekurang serasian antara tugas, dan sarana atau alat atau terputusnya keinginan dengan keinginan yang lain, antara kebutuhan dan pemenuhanya maka akan terjadi gangguan terhadap proses belajar mengajar. Baik gangguan sifat sementara maupun sifat yang serius atau terus menerus. Gangguan dapat berifat sementara sehinngga perlu dikembalikan ke dalam iklim belajar yang serasi (kemampuan kedisiplinan), akan tetapi gangguan dapat pula bersifat cukup serius dan terus menerus sehingga diperlukan kemampuan meremedial. Disiplin itu sebenarnya merupakan akibat dari pengelolaan kelas yang efektif. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai bila guru mampu mengatur siswa dan saran pembelajaran serta megendalikannya dalam suasana yang sangat menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hubungan interprsonal yang baik antara guru dan peserta didik, peserta didik sama peserta didik merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.

B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang melatarbelakangi pembuatan masalah ini adalah sebagai berikut:
  1.  Apakah pengertian dari keterampilan mengelola kelas?
  2. Apakah tujuan dari keterampilan mengelola kelas?
  3. Apa saja komponen-komponen keterampilan mengelola kelas?
  4. Apa sajakah prinsip keterampilan mengelola kelas?
  5. Apa sajakah hal-hal yang harus dihindari dalam mengelola kelas?
  6. Bagaimanakah aplikasi dan cara menggunakan keterampilan mengelola kelas?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
  1. Mengetahui pengertian keterampilan pengelolaan kelas.
  2. Mengetahui tujuan keterampilan pengelolaan kelas.
  3. Mengetahui komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas.
  4. Mengetahui prinsip keterampilan pengelolaan kelas.
  5. Mengetahui hal-hal yang harus dihindari dalam mengelola kelas.
  6. Mengetahui aplikasi dan cara menggunakan keterampilan pengelolaan kelas. 




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing pendekatan tersebut.
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (weber).
Kedua, pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
Ketiga, pendekatan modifikasi tingkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilaku yang bersifat positif dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negative yang dilakukan oleh siswa.
Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan megembalikan ke kondisi optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial.
B.     Tujuan Penggunaan Pengelolaan Kelas
Penggunaan komponen keterampilan mengelola kelas mempunyai tujuan, baik untuk siswa maupun untuk guru. Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  • Tujuan untuk siswa
Keterampilan mengelola kelas untuk siswa bermaksud:
a)      Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
b)      Membantu siswa mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.
c)      Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas. 
  •    Tujuan untuk guru:
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam:
a)      Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah pelajaran secara tepat dan baik.
b)      Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya di dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa
c)      Memberikan respon secara efektif terhadap tingkah laku yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebih-lebihan atau terus menerus melawan di kelas.
C.    Komponen Pengelolaan Kelas
Keterampilan mengelola kelas dibedakan menjadi dua komponen, yaitu :
  • Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)

1.    Menunjukkan Sikap Tanggap
Menggambarkan tingkah laku guru yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dapat ditunjukkan dengan berbagai cara seperti berikut.
a.         Memandang Secara Saksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandangan serta interaksi antarpribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama, dan menunjukkan rasa persahabatan. Memungkinkan guru meliput keterlibatan siswa dalam tugas di kelas serta menunjukkan kesiapan guru untuk memberi respon baik terhadap kelompok maupun individu.
b.         Memberikan Pernyataan   
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan siswa sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lain.  Hal ini terkomunikasi kepada siswa melalui pernyataan guru bahwa ia telah siap untuk memulai kegiatan belajar serta siap memberi respon terhadap kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari adalah menunjukkan dominasi guru dengan pernyataan atau komentar yang mengandung ancaman.
Contoh : “Saya menunggu sampai kalian diam”.
c.         Gerak Mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau  individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa. Gerak mendekati hendaklah dilakuan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam, atau member kritikan dan hubungan. Hal ini menunjukkan kesiapan, minat dan perhatian kepada siswa. Hal ini membantu siswa yang menghadapi kesulitan belajar, mengalami frustasi atau sedang marah.
d.         Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa
Apabila ada siswa yang menimbulkan gangguan atau menunjukkan ketakacuhan, guru dapat member reaksi dalam bentuk teguran. Dengan adanya teguran menandakan adanya guru bersama siswa. Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada sasaran yang tepat. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.

2.    Membagi Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
a.         Visual
Hal ini mennjukkan perhatian terhadap sekelompok siswa atau individu namun tidak kehilangan keterlibatannya dengan kelompok siswa atau individu.
Keterampilan ini digunakan untuk memonitor kegiatan kelompok atau individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi komentar atau memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
b.         Verbal
Guru dapat memberikan komentar, penjelasan, pernyataan, dan sebagainya terhadap aktivitas seorang siswa sementara ia memimpin kegiatan siswa yang lain.

Penggunaan teknik visual maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
3.         Memusatkan Perhatian
Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :
a.         Menyiagakan Siswa
Menciptakaan suasana yang menarik sebelum guru menyampaikan pertanyaan atau topik pelajarannya. Bertujuan  untuk menghindari penyimpangan perhatian siswa. Misalnya : “ coba anak-anak, semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk membedakan daerah mana yang subur dan daerah mana yang tanahnya gersang.
b.         Menuntut Tanggung Jawab Siswa
Hal ini berhubungan dengan cara guru memegang teguh kewajiban dan tanggung jawab yang dilakukan oleh siswa serta keterlibatan siswa dalam tugas-tugas. Misalnya dengan meminta kepada siswa untuk memperagakan, melaporkan, dan memberi respons. Komunikasi yang jelas dari guru mengenai tugas siswa merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan pusat perhatian siswa.
4.         Memberikan Petunjuk yang Jelas
Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan dari pada siswa. Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
5.         Menegur
Apabila terjadi tingkah laku siswa yang menggangu kelas atau kelompok dalaam kelas, hendaklah guru menegurnya secara verbal. Teguran verbal yang efektif ialah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1)      Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta pada tingkah lakunya yang menyimpang
2)      Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
3)       Menghindari ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan
4)      Guru dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga penyimpangan yang terjadi hanya sifatnya mengingatkan
6.         Memberi Penguatan
Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pembelajaran atau menggangu temanya. Yaitu dengan cara.
a.    Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggagu yaitu dengan jalan ”menangkapnya” ketika ia melakukan tingkhlaku yang wajar dan berusaha “ menangkapnya” ketika ia melakukan tingkah yang tidak wajar dan berusaha “ menangkapnya” ketika ia melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan perbuatan yang wajar tadi dapat terulang.
b.    Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjdi teladan.

  • Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
 Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.

Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap problema siswa di dalam kelas. Namun, pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Strategi tersebut adalah :
a.    Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasiakan pemberian penguatan secara sistematis.
b.    Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara :
·         Memperlancar tugas-tugas : Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
·         Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok : Memelihara dan memulihkan semangat siswa dan menangani konflik yang timbul.
c.    Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.

D.    Prinsip Pengelolaan Kelas
1.    Kehangatan dan Keantusiasan
Kehangatan dan keantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar-mengajar yang optimal. Guru yang bersifat hangat dan akrab secara ajek menunjukkan antusiasmenya terhadap tugas-tugas, terhadap kegiatan-kegiatan, atau terhadap siswanya akan lebih mudah pula melaksanakan komponen keterampilan tersebut secara berhasil.

2.     Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan yang menantang akan meninkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya tingkah yang menyimpang. Perhatian dan minat siswa akan terpelihara dengan kegiatan guru tersebut.

3.    Bervariasi
Pengunaan variasi dalam media, gaya, dan interaksi mengajar-belajar merupakan kunci pengelolaan kelas untuk menghindari kejenuhan serta pengulangan-pengulangan aktivitas yang menyebabkan menurunnya kegiatan belajar dan tingkah laku positif siswa. Jika terdapat berbagai variasi maka proses menjadi jenuh akan berkurang dan siswa akan cenderung meningkatkan keterlibatannya dalam tugas dan tidak akan mengganggu kawannya.
4.    Keluwesan
Dalam proses belajar mengajar guru harus waspada mengamati jalannya proses kegiatan tersebut. Termasuk kemungkinan munculnya gangguan siswa. Sehingga diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk dapat merubah berbagai strategi mengajar dengan memanipulasi berbagai komponen keterampilan yang lain.
5.    Penekanan Pada Hal-Hal Positif
Pada dasarnya didalam mengajar dan mendidik guru harus menekankan kepada hal-hal yang positif dan sedapat mungkin menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal-hal yang negatif.
Cara guru memelihara suasana yang positif antara lain :
    1. Memberikan aksentuasi terhadap tingkah laku siswa yang positif dan menghindari ocehan atau celaan atau tingkah laku yang kurang wajar.
    2. Memberikan penguatan terhadap tingkah laku siswa yang positif.

6.    Penanaman disiplin diri
Kegiatan ini merupakan tujuan akhir pengelolaan kelas. Untuk mencapainya guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri. Hal ini akan lebih berhasil jika guru sendiri yang menjadi contoh.
E.     Hal-hal yang Harus Dihindari
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut.
  • Campur tangan yang berlebih (teachers instruction
Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak,  kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri. 
  • Kelenyapan (fade away)

Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang, melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran. 

  • Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and stars)
Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengetahui aktivitas sebelumnya menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
  • Penyimpangan (digression)
Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahkan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
  • Bertele-tele (overdweiling)
Kesalahan ini terjadi bila pembicaraan guru bersifat mengulang-ulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran sederhana menjadi  ocehan atau kupasan yang panjang.










BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat diperoleh simpulan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan mengelola kelas, antara lain:
1.      Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal.
2.       Keterampilan mengelola kelas dibedakan menjadi dua komponen, yaitu
·         Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
·         Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
3.      Prinsip mengelola kelas terdiri dari :
·         Kehangatan dan Keantusiasan
·         Tantangan 
·         Bervariasi
·         Keluwesan
·         Penekanan Pada Hal-Hal Positif
·         Penanaman disiplin diri
4.      Hal-hal yang harus dihindari terdiri dari :
·         Campur tangan yang berlebih (teachers instruction)
·         Kelenyapan (fade away)
·         Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and stars)
·         Penyimpangan (digression)
·         Bertele-tele (overdweiling)




DAFTAR PUSTAKA

Asril, Zainal. 2010. Microteaching. Padang. PT. Raja Grafindo Persada.

Senin, 18 Mei 2015

Ringkasan/Resume Buku Filsafat Pendidikan Jalaludin dan Abdullah Idi Part 3

BAB 4
BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT MODERN DITINJAU DARI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Pengertian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Ontologi = ilmu hakikat ang menyelidiku alam nyata dan bagaimana keadaan sebenarnya.
Epistemologi = pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan
Aksiologi = menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik dan yang buruk.
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern
Aliran Progesivisme
Mengakui dan berusaha mengembangkan progresivisme dalam semua realita terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup  manusia, harus praktis dalam melihat sesuatu dari segi keagungannya. Tokoh-tokoh aliran ini adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller dan George Santayana.
Pandangan ontologi
Asal keduniaan adalah kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas sebab kenyataan lama semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia.
Pengalaman adalah perjuangan sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Manusia akan tetap hidup dan berkembang jika ia mampu mengatasi perjuangan, perubahan, dan berani bertindak.
Pandangan Epistemologi
Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui  pengalaman dan kontak dengan segala realitadalam hidupnya atau pengetahuan yang diperoleh melalui catatan.
Semakin sering menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalamansemakin besar peersiapan untuk menghadapi tuntutan zaman.
Pandangan Aksiologi
Nilai itu benar atau salah, baik atau buruk data dikatakan ada bila menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yangdialami manusia dalam pergaulan.
Progessivisme dan Pendidikan
Progesivisme = pragmatisme berdasarkan ide dasarnya dengan asas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan dan harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.
Progessivisme telah memberikan sumbangan besar kepada dunia pendidikan pada abad ke 20 dimana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik dalam mengembangkan bakat dan kemampuan dirinya baik secara fisik maupun cara berfikir, tanpa terhambat rintangan yang dibuat orang lain.
Menurut aliran progessivisme kebudayaan adalah hasil budi manusia yang merupakan milik manusia yang tidak beku dan terus berkembang. Untuk itu pendidikan adalah alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan memberikan corak dan warna dari output yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang berkualitas, kompetitif, insiatif, adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zaman.
Sehingga dibutuhkan kurikulum eksperimental (kurikulum yang berpijak pada pengalaman)
Asas belajar
Bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagia potensi untuk memecahkan problema-problemanya. Sehingga pendidikan adalah wahana paling efektif sebagai proses sesuai hakikat anak didik sebagai manusia berkembang. Sehingga sekolah yang ideal adalah sekolah yang berintegrasi dengan lingkungan sekitar.
Progessivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Tujuan pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, bukan hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja melainkan melatih kemampuan berfikir secara ilmiah.
Pandangan kurikulum progessivisme
Kurikulum dipusatkan pada kurikulum eksperimental, oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman.
Progessivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus berintegrasi dalam unit, dan metode yang diutamakan adalah problem solving.
Kurikulum yang baik harus memenuhi beberapa hal:
Kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai denga jenjang pendidikan
Kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik
Kurikulum sanggup mengubah perilaku anak didik menjadi kreatif, adaptif, dan kemandirian
Kurikulum bersifat fleksible berisi tentang berbagai macam bidang studi.
Pandangan progessivisme tentang budaya
Kebudayaan adalah hasil budi manusia. Manusia sebagi makhluk berakal dan berbudidaya selalu berupaya melakukan perubahan-perubahan.
Filsafat progessivisme memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang memecahkan problema-problema hidup, telah mempengaruhi pendidikan, dimana dengan pembaharuan pendidikan telah mempengaruhi manusia untuk maju (pogress). Sehingga semakin tinggi tingkat berfikirnya maka semakin tinggi pula peradapan manusia. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang kompleks dan maju.
Aliran Essensialisme
Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang sejak awal peradapan umat manusia.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Essensialisme muncul pada zaman renaissance.
Idealisme modernmerupakan suatu ide-ide manusia sebagai makhluk yang berfikir dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi.
Pandangan ontologi essensialisme
Sifat khas dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsinbahwa dunia ini di kuasai oleh tatanan yang cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Ini berarti bahwa bagaimanpun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tatanan tersebut. Secara filosofis esensialisme dilandasi oleh prisip-prinsip klasik dari filsafat realisme dan idialisme moderen. Ontologinya dapat disebut realisme objektif, yang berpendapat bahwa kenyataan adalah sebuah pokok (subtansi) mater atau idialisme objektif yang berpandangan bahwa kenyataan itu pada pokoknya bersifat rohaniah.

Pandangan epistemologi essensialisme
Epistemologi essensialisme pada tingkat tertinggi merupakan teori persesuaian pengetahuan, yang meyakini bahwa kebenaran tampil mewakili atau sesuia dengan fakta objektif. Realisme memperhatikan pandangan tiga aliran psikologi yaitu assosianesmi, behavorisme, dan koneksionisme. Lazimnya metosde yang digunakan dalam aliran psikologi ini adalah menerapkan metode ilmu alam.

Pandangan mengenai Pendidikan
Essensialisme timbul karena adanya pandangan kaum progesif mengenai pendidikan yang fleksibel. Oleh karena adanya saingan dari progresibvisme, maka pada sekitar tahun 1930 muncul organisasi. Dengan munculnya komite ini pandangan-pandangan essensilaisme menurut tafsiran abad XX mulai diketengahkan dalam dunia pendidikan.

Pandangan mengenai belajar
Essensialisme yang didukung oleh pandangan idealisme berpendapat bahwa bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia objektif. Akal budi manusia membentuk, mengatur, mengelompokkannya dalam ruang dan waktu. Dengan prinsip itu dapat dikatakan bahwa belajar pada seseorang sebenarnya adalah mengembangkan jiwa pada dirinya sendiri sebagai substansi spritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi serta diteruskan kepada angkatan berikutnya (Barnadib:1996:56). Belajar adalah cerminan dari jiwa yang aktif
Pandangan Kurikulum Essentialisme
Essensialisme adalah suatu teori pendidikan yang menegaskan bahwa pendidikan selayaknya bergerak dalam kegiatan pembelajaran tentang keahlian dasar, seni dan sains yang telah nyata-nyata berguna dimasa lalu dan tetap demikian dimasa yang akan datang. Para essensialis percaya bahwa beberapa keahlian esensi atau dasar mempunyai kontribusi yang besar terhadap keberadaan manusia seperti membaca, menulis, aritmatika dan perilaku sosial yang beradab. Keahlian dasar ini merupakan hal yang selayaknya dan memeng dibutuhkan sehingga selalu ada dalam setiap kurikulum sekolah dasar yang baik.
Pada kurikulum sekolah pertama, kurikulum dasar seharusnya terdiri dari sejarah, matematika, sains dan sastra. Kurikulum perguruan tinggi terdiri dari dua komponen yaitu mata kuliah umum dan sains. Dengan menguasai mata kuliah ini yaitu yang berkaitan dengan lingkungan sosial dan alam, seorang siswa mempersiapkan diri untuk berpartisipasi ssecara efektif dalam masyarakat beradab.
Jadi intinya kurikulum hendaknya disusun secara sistematis, dari mulai yang sederhana sampai yang kompleks. Kurikulum direncanakan dan disusun berdasarkan pikiran yang matang agar manusia dapat hidup harmonis dan menyesuaikan diri dengan sifat-sifat kosmis.

Aliran Perennialisme
Pandangan Ontologi Perenialisme
Ontologi perenialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Secara ontologis, perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya. Benda individual di sini adalah benda sebagaimana yang tampak di hadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indra seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna, dan aktivitas tertentu. Esensi dari suatu kualitas menjadikan suatu benda itu lebih intrinsik daripada fisiknya, seperti manusia yang ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Sedangkan aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial.
Dengan demikian, segala yang ada di alam semesta ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, merupakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang ada tidak hanya merupakan kombinasi antara zat atau benda, tapi juga merupakan unsur potensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Poedjawijatna, bahwa esensi dari kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh dari potensialitasnya. Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap waktu adalah potensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini, manusia dapat makin mendekatkan diri menuju tujuan (teleologis) untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta dan tujuan akhir.
Pandangan Epistemologis Perenialisme
Perenialisme berpangkal pada tiga istilah yang menjadi asas di dalam epistemologi yaitu truth, self evidence, dan reasoning. Bagi perenialisme truth adalah prasyarat asas tahu untuk mengerti atau memahami arti realita semesta raya. Sedangkan , self evidence adalah suatu bukti yang ada pada diri (realita, eksistensi) itu sendiri, jadi bukti itu tidak pada materi atau realita yang lain. Dan pengertian kita tentang kebenaran hanya mungkin di atas hukum berpikir (reasoning), sebab pengertian logis misalnya berasal dari hukum-hukum berpikir.
Dalam pandangan Perenialisme ada hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, seraya menyadari adanya perbedaan antara kedua bidang tersebut. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa-empiris dan analisa ontologis keduanya dianggap Perenialisme dapat komplementatif. Dan meskipun ilmu dan filsafat berkembang ke tingkat yang makin sempurna, namun tetap diakui bahwa fisafat lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu pengetahuan.
Pandangan Aksiologi Perenialisme
Masalah nilai merupakan hal yang utama dalam Perenialisme, karena ia berdasarkan pada asas-asas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi, hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah jiwanya. Oleh karena itu, hakikat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran demikian bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itulah yang bersesuaian dengan sifat rasional manusia, karena manusia itu secara alamiah condong pada kebaikan.
Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki tiga potensi: nafsu, kemauan, dan pikiran. Maka pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan pada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Dengan demikian, hendaknya pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan, dan pikiran. Dengan memperhatikan hal ini, maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.
Aliran Rekonstruksionisme
Berasal dari bahasa inggris reconstruct yang berarti menyusun kembali.
adalah aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata  susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern
Pandangan ontologi
Memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat.
Tiap realita sebagi substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi)
Memandang bahwa alam metafisika merujuk dualisme: bahwa alam ini mengandung hakikat materi dan hakikat rohani.
Dibalik gerak realita sesungguhnya terdapat kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama (kausa Prima yaitu Tuhan). Tuhan adalah aktualitas murni yang sama sekali sunyi dan substansi.
Pandangan Epistemologi
Untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita tanpa melalui pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu gerbang ilmu pengetahuan.
Dasar suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence yakni bukti.
Pandangan Aksiologi
Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral, akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia. Tetapi, secara umum ruang lingkup (scope) tentang pengertian “nilai” tidak terbatas.
Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah pancaran yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Ke­mudian, manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya apabila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan.
Neo-Thomisme memandang bahwa etika, estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis, dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral, kreasi estetika dan organisasi politik. Karenanya, dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yakni bersatu dengan Tuhan, kemudian berpikir rasional. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan), hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri.
Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam, yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral, kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual.


Sabtu, 02 Mei 2015

Ringkasan/Resume Buku Filsafat Pendidikan Jalaluddin & Dr. Abdullah Idi part 2

Bab 3

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the Mother of Sciences) pada mulanya mampu menjawab segala pertanyaan tentang segala sesuatu dan segala masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia, deng segala problematikanya.
Namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan filsafat maka muncullah cabang ilmu yang lain. Misal filsafat pendidikan. 


Perkembangan Pemikiran Filsafat  Spiritualisme Kuno
Timur Jauh
Hindu
Pemikiran spiritualisme = adanya konsep karma dan reinkarnasi. Alam semesta ini penuh rahasia dan manusia didalamnya merupakan suatu yang mat kecil, namun memiliki arti yang besar. Sehingga manusia didorong untuk menyelidiki dan memahami alam semesta dan isinya.
Budha (Sidarta Gautama)
Meskipun ajaran budha telah disebut sebagai agama tetapi sebenarnya ia bukanlah agama karena tidak ditemukan ajaran tentang tuhan. Dalam kitab Tripitaka terdapat 8 ajaran yang akan membawa manusia menjadi mulia dan sempurna. Apabila manusia melakukan pelanggaran maka akan sengsara. Karena secara filsafat agama ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada si sunia ini terliputi oleh sengsara yang disebabkan oleh cinta yang berlebihan.
Tao (Lao Tse)
Jalan Tuhan atau sabda Tuhan, tao ada di mana-mana, tetapi tidak berbentuk dan tidak dapat
Shinto
Shinto adalah agama utama di Jepang, yang menitik beratkan pemujaan alam dan pemujaan leluhur. Shinto tumbuh dan berkemang di Jepang, sangat respek kepada alam (nature) karena ajaran-ajarannya mengandung nilai atau ekspresi. Dalam ajaran Shinto ini mengandung makna-makna filsafat, mengandung nilai motivasi dan optmik guru menjadi pegangan bagi penganutnya. Karena itu ajaran Shinto mengandung petunjuk agar umat Shinto bias menempatkan diri di alam semesta tanpa merusak dan mengorbankan alam dan isinya dan kerja keras menjadi cirri khas masyarakat jepang.
Timur Tengah
Yahudi
Tanda –tanda pemikiran filsafat:
Penguraian tt bentuk-bentuk penindasan moral dari monotheisme, peredaran, kebenaran dan bernilai tinggi.
Kaum yahudi sangat mementingkan pendidikan bagi generasinya Karena hal pokok dan lebih penting dari kekuatan militer serta adanya ganjaran-ganjaran di surga.
Selama 200 tahun, doktrin-doktrin monotheisme dan pengajaran-pengajaran etis yang penting dari orang-orang yahudi dan telah meresapi pikiran-pikiran para ahli filsafat dan para pendidik dengan menyangkut jiwa dan memberi harapan bagi masa depan kemanusiaan.
Kristen
Ajaran Kristen mengajarkan konsep tuhan.
Romawi dan Yunani: Antomorpomisme
Antomorpomisme adalah suatu paham yang menggunakan antara sifat-sifat Tuhan (pencipta) dengan sifat-sifat yang ada pada manusia. Missal tahan tuhan disamakan dengan tangan manusia.
Reaksi Terhadap Spiritualisme Di Yunani
Awal munculnya filsafat adalah dengan pengetahuan mitos. Khusus mengenai aliran filsafat spiritual ditandai dengan pemikiran yang mengutamakan kerohanian dan kejiwaan, banyak para filosof yang mencurahkan pemikirannya memenuhi dan melalui alur aliran ini. Banyak yang puas dengan aliran ini yaitu aliran idealism. Sementara aliran yang tidak puas karena aliran ini dianggap tidak ilmiah lahirlah aliran materialism. Dan kemudian muncul aliran rasionalisme yaitu pusat segala sesuatu terletak pada dunia rasio, sementara yang lain adalah objeknya.
Idealisme (Plato)
Adalah suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa, menurutnya cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak diantara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indra. Jadi yang nyata adalah idea.
Inti ajaran ini yang terpenting adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi kehidupan manusia. Roh dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma.
Materialisme
Adalah suatu aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan, dimana benda merupakan sumber segalanya. Mereka berfikir sederhana, bahwa realitas adalah sebagimana adanya. Maka realitas alam semesta ini pastilah sebagimana apa yang kita lihat yang tampak dihadapan kita, yaitu materi
Menurut Demokritos seluruh ala mini berasal dari atom kecil.
Rasionalisme
Pelopor rasionalisme adalah Rene Descrates
Aliran ini beranggapan bahwa segala sesuatu disandarkan pada rasio. Aliran ini lahir karena adanya usahauntuk membebaskan diri dari pemikiran tradisional (skolastik) sebab sudah tidak mampu menangani dan menemukan hasil terhadap ilmu pengetahuan dikarenakan aliran skolastik banyak mengadakan praduga yang berisikan angan-angan semata.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan
Suatu pandangan dunia umumnya suatu pandangan teoritis mempunyai hubungan erat denga lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan. Bagi seorang Yunani, filsafat bukanlah merupakan ilmu disamping ilmu-ilmu lain melainkan meliputi semua ilmupengetahuan ilmiah. Tanah Yunani adalah tempat permainan dimana pemikitan ilmiah tumbuh terutama bidang filsafat pendidikan.
Pemikiran Filsafat Pra-Socrates
Pada masa ini para pemikir belum puas dengan keterangan mengenai alam semesta yang diterima dari kepercayaannya. Maka mereka mencari tahu sendiri, apakah sebenarnya alam semesta ini? Apa intisarinya? Sehingga para filosof filosof ini disebut filosof alam.
Filosof alam yang terkenal pada masa ini antara lain:
Thales
Anaximandros
Anaximenes
Pitagoras
Heraklitos
Parmenides
Pada masa ini muncul pula kaum sofisme (sendekiawan) yang dipelopori oleh Protogoras. Bagi mereka manusia menjadi ukuran kebenaran, tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal,kebenaran hanya berlaku secara individual.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates
Sacrotes (Athena, 470-399 SM) merupakan pemikir besar kuno yang memiliki gagasan-gagasan filosofisnya dan pengajarannya dalam dunia pendidikan.
Prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Sacrotes adalah metode dialektis, dasar teknis pendidikan yang direncanakan dan mendorong seseorang belajar untuk berfikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperoleh pengetahuannya.
Tujuan pendidikan :merangsang penalaran yang cermat dan disiplinmental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus-menerus dan standar moral yang tinggi.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato
Plato (427-347 SM) adalah murid Sacrotes.
Pendidikan adalah tugas suatu bangsa yang harus dilaksanakan untuk kepentingan Negara dan perorangan, pendidikan itu memeberikan kesempatan kepadanya untuk penampilan kesanggupan diri pribadinya. Bagi Negara ia bertanggung jawab untuk memberikan perkembangan kepada warganya, dapat berlatih, terdidik, dan merasakan bahagia dalam menjalankan peranannya guna melaksanakan kehidupan kemasyarakatan.
Pendidikan merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran sehingga mereka akan lahir kembali (they shall be born again)
Tujuan pendidikan : untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga akan menjadi seorang warga Negara yang baik, dalam suatu masyarakat yang harmonis, melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota kelasnya.
Pendidikan harus direncanakan dan diprogramkan agar sesuai yang dididamkan yaitu sebagai berikut: sesuai tingkat usia
Tahap pertama
Pendidikan diberikan kepada taruna hingga usia 20 tahun
Tahap kedua
Dari usia 20-30 tahun
Tahap ketiga
Usia 30-40 tahun

Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato.
Pendidikan harus didapatkan oleh setiap orang agar ia hidup baik. Pendidikan bukanlah semata-mata soal akal tetapi member bimbingan kepada perasaan-perasan yanglebih tinggi, supaya mengarah diri kepada akal, sehingga dapat dipakai akal guna mengatur nafsu-nafsu.
Pendidikan yang baik adalah yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan, kebahagiaan tertinggi adalah kebahagiaan spekulatif.

Prinsip poko pendidikan adalah pengumpulan serta penelitian fakta-fakta suatu belajar induktif, suatu pencarian objektif akan kebenaran sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan.

Cerpen Anak "Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?"


"Aku menyukai cerita anak seperti aku menyukai anak-anak."
Quote di atas dengan sengaja kupasang diawal sebelum aku mengepos cerita anak yang terbit di rubrik kawanku koran kedaulatan rakyat edisi Minggu, 26 April 2015. Alasannya, aku ingin mensugesti diri sendiri. Bukankah ada orang yang bilang quote sering kali bisa membuat kekuatan sendiri bagi seseorang. :)

Saat aku selesai membaca cernak berjudul peri gigi itu ada atau tidak? karya Anastasia Yuniarti Wadhas Wulan, aku merasa bahwa ini cerpen "pas" untuk anak - anak. Seolah cerpen ini benar-benar ditulis oleh seorang anak usia sekolah dasar. Ringan-ringan saja. Aku berharap anak-anak di desa ku bisa menjadi penulis. Itu impianku, sebenarnya. Akhirnya berbekal rasa kepo yang menggunung, aku mencoba menuliskan nama penulisnya di mbah google. Dan, kekagetan yang kudapat. Penulis ternyata seorang guru di sebuah sekolah dasar. Kemudian saya berpikir, pantas saja, lha wong dia seorang guru yang dekat dengan anak-anak. Hehehe ....

Namun, ada beberapa catatan yang menurutku agak kurang pas. Maklum, aku memang sering koment, meski masih belum menjadi ahli. Yah, itung-itung sebagai proses untuk belajar. Betul tak?
1. Terlalu banyak dialog. Menurut saya lho ya.
2. Setiap mengakhiri dialog selalu diakhiri dengan tanda koma (,). Menurut para suhu di Kelas Online Bimbingan Menulis Novel (KOBIMO) tanda baca diakhir dialog itu menunjukkan ekspresi, Misal tanda seru (!) ni dipake saat kaget or teriak.
3. Pertanyaan ketiga yang masih mengganjal, sebenarnya peri gigi itu ada atau tidak. Wkwkwkwk. Lupakan.

Aku menulis ini bukan bermaksud menggurui, tetapi sebagai mediaku untuk belajar.

Sudah dulu basa-basi yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?

Oleh: Anatasia Yuniarti Wadhas Wulan

“Bunda, hari ini ada pemeriksaan gigi di sekolah,” kata Jessy pada bundanya.
“Lho, bagus dong.” kata Bunda.
“Iya, sih. Tapi gigi depanku keropos. Aku khawatir kalau harus dicabut,” kata Jessy.
“Sayangku dokter tidak akan sembarangan mencabut gigi. Kalau tidak goyang tidak akan dicabut. Percaya deh sama Bunda.” Kata Bunda menyakinkan .
“Iya, deh.”
Dengan langkah penuh percaya diri Jessy memasuki halaman sekolahnya. Bundanya melambaikan tangan.
Saat diperiksa, dengan mantap Jessy menunjukkan giginya kepada dokter gigi.
“Wah gigimu rapi ya. Harus rajin gosok gigi sehabis makan, agar tidak keropos.” kata dokter gigi.
Jessy kembali ke tempat duduknya dengan lega. Benar kata Bunda, giginya tidak akan dicabut.
“Eh ... gigiku sudah goyang lho. Kata dokter, itu pertanda aku sudah besar.” Kata Siska saat sampai ke tempat duduknya.
“Kok aku belum goyang, ya?” tanya Jessy cemas.
“Ha... ha...ha...,” teman – teman menertawakan.
Melihat kkegaduhan itu, Bu Guru mendekati mereka,
“Semua orang memiliki waktu yang berbeda kapan giginya tanggal.” Bu Guru menjelaskan.
“Oooo...,” seru anak – anak seperti paduan suara.
“Aku kemarin tanggal gigi bawah,” kata Yuta.
“Eh... kalau gigi bawah yang copot harus dibuang ke atas genting. Nanti gigi barunya sepat tumbuh.” komentar Anggit yang sudah mengalami tanggal gigi dua kali.
“Aku meletakkan gigiku di bawah bantal. Eh, paginya berubah menjadi kado. Mungkinkah dari peri gigi, ya?” kenang Alfito tak mau kalah.
“Memangnya peri gigi itu ada?” tanya Jessy.
“Entahlah,” sahut Anggit dan Siska hampir bersamaan.
***
 “Bunda, peri gigi itu ada atau tidak?”
“Kenapa?” tanya Bunda.
“Aku mau dapat hadiah kalau gigiku tanggal,” kata Jessy penuh harap.
“Gigimu sudah ada yang goyang?” tanya Jessy penuh selidik.
“Hiii ...,” Jessy meringis menunjukkan giginya.
“Wah anak Bunda sudah besar dong,” kata Bunda dengan rasa bangga.
“Bagaimana caranya agar dapat hadiah, Bunda?” tanya Jessy penuh harap.
“Kalau cabut gigi sendiri pasti dapat hadiah,” kata Bunda sambil tersenyum.
Betapa senangnya mendapat hadiah dari peri gigi. Tetapi Jessy masih cemas membayangkan rasa sakit ketika cabut gigi. Bunda menyarankan untuk sering - sering menggoyangkan gigi agar tidak neyri saat dicabut.
“Bayangkan hujan jam tangan dengan gambar kartun kesayanganmu,” pinta Bunda sambil mencabut gigi Jessy.
“Eh, ternyata enggak sakit ya, Bun. Kenapa berdarah ya, Bun?”
“Ya, karena ada pembuluh darah yang rusak, jadi berdarah,” jelas Bunda.
“Bunda dulu juga begitu, ya?”
“Ya.... Tapi beberapa hari kemudian gigi baru akan tumbuh dan lebih kuat.”
Jessy menunggu gigi barunya dengan senang. Apalagi dia sudah mendapat hadiah jam tangan bergambar tokih kartun kesayangannya.