Cilok cinta. Cilok produk gagal itu tersusun acak di atas piring. Rumi memandanginya dengan lesu. Perutnya telah penuh dengan cilok.
Pada percobaan yang ke delapan belas ini, lidah Rumi belum juga merasai rasa cilok seperti milik bang Toga.
"Ayam aja tidak doyan. Malah pateng glinding. Pithikke do wedi." begitu komentar Ibu Rumi dengan cilok percobaan ke tujuh belas.
Bentuk cilok yang gagal kali ini juga sangat mengerikan. Tadi Rumi salah memasukkan kanji dulu ke dalam kaldu panas sehingga kanji bergumpal - gumpal. Awalnya, Rumi ingin menyudahi percobaannya pada titik ini, akan tetapi wajah ibu dan Moe muncul tiba - tiba.
Ibu pasti bakal ngomel seharian jika Rumi menyia - nyiakan bahan makanan. Sementara Moe .... Dia .... Rumi tersenyum kecil.
Moe, adalah lelaki yang diam - diam Rumi sukai. Lelaki yang suka cilok. Cilok buatan Bang Toga. Moe selalu menunggu Bang Toga lewat depan rumahnya di gang 21. Ia selalu membeli cilok buatan Bang Toga. Rumi jadi ikut - ikutan membeli cilok Bang Toga. Rumi menjadi iri. Jika Bang Toga bisa mendapat perhatian dari Moe, tentu Rumi juga bisa.
Rumi merahasiakan perasaannya dari ibu, terlebih abah. Jangan bayangkan abah adalah sosok yang diktator dan kasar. Abah Rumi adalah abah yang bijak. Jika tahu Rumi diam - diam menyukai Moe, bisa saja Abah datang ke rumah Moe dan memintanya menikahi Rumi. Karena umur Rumi memanga sudah tidak muda lagi. Dan hal itulah yang paling Rumi takutkan.
Sampai produk gagal Rumi yang ke delapan belas, Rumi masih yakin bahwa Moe sama sekali tidak tahu keberadaannya, termasuk nama. Padahal mereka satu gang. Poor Rumi.
Rumi memang baru dua bulan pindah ke gang 21. sebuah gang yang padat. Kalau masuk gang itu, kamu tidak akan menemukan sela antara satu rumah dengan rumah lainnya.