Tampilkan postingan dengan label Kirim Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kirim Tulisan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2024

Cara Kirim Cernak Ke Kedaulatan Rakyat

Assalamu'alaikum, hai kamu penasaran cara kirim cerita anak ke kedaulatan rakyat? Aku juga iya. Eh, kog gitu. Aku juga penasaran alamat emailnya sekarang apa? Oke, aku mau cerita dulu. But kuspill dulu penampakan rubrik kawanku kedaulatan rakyat yang memuat cernak. Tada... ini dia.


Pagi ini aku nemu ide buat cernak tema hari ibu. Sat set sat set jadilah satu cernak. And langsung cus kukirim ke email Kawankukaer@gmail.com sesuai dengan yang tertera di korannya.
Dan tahu apa yang terjadi.

Jeng jeng

Emailku masuk ke kotak keluar dan ada notif dalam antrian. Ealah. Maksudny apaan coba.

Lalu aku sercing sercinglah dan ternyata emailnya udah bener ya. Belum rejekiku kali ya. Ya sudahlah.
Begini nih kata mbah gugel. 
Ada beberapa kemungkinan emailku masuk ke kotak keluar sesuai yang kulingkari.

Poin 1 gak mungkin, karena baru semalam aku ngisi kuota. Tapi setelah kucoba kirim ke emailku yang lain juga gak bisa. Ternyata, tidak ada koneksi internet.
Olala, kudu kepie iki. Golek tetringan dipek.

Poin 2, juga ngak mungkin karena barusan kucoba buat kirim sungguh sungguh terjadi langsung terkirim.

Poin 3, mungkin. Karena belum kucek. Tapi file lampiranku cuma 2 lembar lho.

Poin 4, mungkin. Ini gak tahu juga. Ntar mau kucoba kirim pakai email berbeda dan format dokumennya kubuat rtf saja. 

Oya, ini sedikit curcolku. Besok kalau masalah ini sudah terselesaikan akan kuupdate postingan ini. InsyaAllah.

====
Karena penasaran, akhirnya aku coba kirim lewat chrome. Dan hasilnya, jepret. Berhasil terkirim. Alhamdulillah. Berharap dimuat. Ternyata masalahnya ada di email yang langsung apps. Tidak bisa kirim lampiran.
====

Oke lanjut ya, cara kirim cernak ke kedaulatan rakyat. 
1. Buat cerita dengan jumlah kata 500-700 kata
2. Tulis dalam bentuk dokumen yang nanti akan dilampirkan.
3. Untuk subjek kuisi Cernak _judul_namaku
4. Bagian badan email kuisi seperti surat gitu.


5. Lanjut kirim deh.
6. Bismillah semoga dimuat. Jangan lupa berdoa ya gaes.

Tulisan ini, insyaAllah akan terus saya update. 



Jumat, 11 September 2015

Kirim PERCIKAN ke majalah GADIS


Pagi ini, aku blogwalking ke tetangga-tetangga blog. Eh nemu sebuah blog yang mennurut aku rekomended banget untuk setiap hari dikunjungi hehehe.

di dalam blog itu terdapat banyak banget info tentang kepenulisan. PAsti pada penasaran kan. Tara ini dia blog yang aku maksud Menulis dengan Hati, blognya kak Fira. (maaf kakak fira, belum ijin hehehehe)

Dari sanalah aku baca beberapa karya kak fira yang di muat di majalah GADIS untuk rubrik PERCIKAN. Jadi inget jaman dulu aku ngirim tapi gak dimuat. hehehe. Dari pada tulisanku terlantar mending aku posting aja di sini.

(gak jelek-jelek amat sih)

Oya nanti di akhir cerita aku akan membagi KETENTUAN MENGIRIM PERCIKAN ke majalah Gadis.  

FOTO LAKI-LAKI

Sore itu, setelah silau petir mengoyak langit, guntur  seolah-olah menyalak-nyalak tepat di atas  kepala Aprilia. Aprilia tidak takut. Tepatnya, ia memaksakan diri untuk tidak takut. Karena ketakutan akan membawanya ke dalam pelukan mama.
Kali ini, Aprilia tidak menginginkan pelukan mama lagi.
Tubuh Aprilia menggigil di dekat jendela. Tangannya mencengkeram tirai dengan kuat. Air yang sedari tadi menggenang di kantung matanya meleleh perlahan di kedua pipi tanpa isak.
Mendengar petir dan guntur, mama berlari tergopoh-gopoh menghampiri Aprilia, dari belakang ia memeluk anak semata wayangnya. Tapi Aprilia meronta, melepaskan pelukan mamanya dan berlari ke kamar. Mama memandanginya sampai menghilang di balik pintu dengan heran.
“Kenapa Nak? Tak biasanya kamu bertingkah seperti ini. Mungkinkah patah hati?” gumam mama sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir.
***
            Di luar rumah, hujan kian menderas, petir dan kilat masih memporak-porandakan langit. Alam memang membutuhkan hujan disertai petir dan guntur sebagai penawar kemarau yang panjang. Tapi bagaimana dengan hati? Hati kerap kali menampik hujan disertai petir dan guntur karena ia akan membuat guratan yang sulit dihilangkan. 
Di dalam kamar, badai petir dan guntur sedang menerjang hati Aprilia. Hujan air mata menderas, membentuk aliran-aliran sungai yang tak bermuara. Aprilia merasa dikhianati.
Dari luar kamar, Mama Aprilia mengetuk-ketuk pintu kamar Aprilia.
“Makan dulu, Nak. Mama buatin makanan kesukaanmu lho. Orak-arik kembang kol.”
Mendengar suara rayuan mamanya yang khas, isak Aprilia mengeras sampai terdengar dari balik pintu. Hal ini membuat hati mamanya teriris perih. Mama belum pernah menemukan Aprilia bertingkah seperti ini sejak ayahnya meninggal, dua tahun yang lalu. Dahulu setelah ayahnya meninggal, selama tiga hari Aprilia tidak mau keluar rumah dan mengurung diri di kamar. Akhirnya wali kelas datang ke rumah untuk memastikan keadaan putrinya. Mama berharap itu tidak akan terjadi lagi kali ini, mama yakin anaknya yang hampir masuk SMA tentu pemikirannya telah berkembang sehingga ia tidak akan berbuat hal yang sama seperti waktu itu. Kalaupun ia patah hati tidak akan sampai berlarut-larut.
Mama diam sejenak, memasang telinganya namun tidak ada jawaban. Hanya isak tangis yang belum juga tuntas.
***
Waktu itu, saat Aprilia mencari kartu keluarga di lemari mama, tiba-tiba selembar foto laki-laki ikut terambil dan jatuh di kakinya. Laki-laki seumuran ibu dengan kemeja krem dan celana jean, rambutnya gondrong menjuntai sampai ke pundak. Matanya yang tajam membuat laki-laki itu terlihat mempesona. Laki-laki dalam foto itu bukan laki-laki yang pernah tinggal di rumah ini. Bukan ayahnya. Ia belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya, tapi sorot matanya mengingatkan Aprilia pada sosok yang pernah ia kenal. Tapi siapa?
 Ada laki-laki lain di rumah. Mama telah mengkhianati papa, mengkhianati cinta, itu sama artinya mama telah mengkhianati dirinya sebagai buah dari cinta mereka.
***
“Mama sama sekali tidak mengkhianati papa. Papa tetap ada di hati mama. Hanya saja mama butuh seseorang untuk mama cintai, lagi.” jawab mama.
“Mama punya Aprilia, apa itu tidak cukup.”

Mama menggeleng. Dan Aprilia semakin tidak mengerti.

Ketentuan kirim percikan ke majalah Gadis
1.  Panjang tulisan 2 halaman folio aja 
2.  Tema : seputar dunia remaja (ya iyalah masak dunia kakek ninek)
3.  Kirim ke GADIS.redaksi@feminagroup.com
4. Sertakan no rekening dan fotokopi buku tabungan. (sesuai info di blognya mbak fira)

Senin, 07 September 2015

Kumpulan Alamat Epaper Koran

Buat teman-teman yang ingin membaca koran minggu untuk melihat tulisannya dimuat atau tidak tetapi lagi bokek, bisa melihat epapernya aja. Di bawah ini beberapa koran yang menyediakan epaper.




1.  Epaper kedaulatan rakyat 

--) Untuk bisa membuka epapernya teman-teman harus mempunyai akun terlebih dahulu. pembuatan akunnya cukup mudah jadi jangan sungkan untuk membuatnya. :)









2. Suara Merdeka

--) Sama seperti epaper Kedaulatan Rakyat untuk bisa membuka epapernya teman-teman harus mempunyai akun terlebih dahulu.







3. Pikiran Rakyat

--) Sama seperti epaper Kedaulatan Rakyat untuk bisa membuka epapernya teman-teman harus mempunyai akun terlebih dahulu.







4. Banjarmasin Post 

--) bisa langsung membaca epapernya tanpa login. :)

5. Jawa Pos




Sabtu, 02 Mei 2015

Cerpen Anak "Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?"


"Aku menyukai cerita anak seperti aku menyukai anak-anak."
Quote di atas dengan sengaja kupasang diawal sebelum aku mengepos cerita anak yang terbit di rubrik kawanku koran kedaulatan rakyat edisi Minggu, 26 April 2015. Alasannya, aku ingin mensugesti diri sendiri. Bukankah ada orang yang bilang quote sering kali bisa membuat kekuatan sendiri bagi seseorang. :)

Saat aku selesai membaca cernak berjudul peri gigi itu ada atau tidak? karya Anastasia Yuniarti Wadhas Wulan, aku merasa bahwa ini cerpen "pas" untuk anak - anak. Seolah cerpen ini benar-benar ditulis oleh seorang anak usia sekolah dasar. Ringan-ringan saja. Aku berharap anak-anak di desa ku bisa menjadi penulis. Itu impianku, sebenarnya. Akhirnya berbekal rasa kepo yang menggunung, aku mencoba menuliskan nama penulisnya di mbah google. Dan, kekagetan yang kudapat. Penulis ternyata seorang guru di sebuah sekolah dasar. Kemudian saya berpikir, pantas saja, lha wong dia seorang guru yang dekat dengan anak-anak. Hehehe ....

Namun, ada beberapa catatan yang menurutku agak kurang pas. Maklum, aku memang sering koment, meski masih belum menjadi ahli. Yah, itung-itung sebagai proses untuk belajar. Betul tak?
1. Terlalu banyak dialog. Menurut saya lho ya.
2. Setiap mengakhiri dialog selalu diakhiri dengan tanda koma (,). Menurut para suhu di Kelas Online Bimbingan Menulis Novel (KOBIMO) tanda baca diakhir dialog itu menunjukkan ekspresi, Misal tanda seru (!) ni dipake saat kaget or teriak.
3. Pertanyaan ketiga yang masih mengganjal, sebenarnya peri gigi itu ada atau tidak. Wkwkwkwk. Lupakan.

Aku menulis ini bukan bermaksud menggurui, tetapi sebagai mediaku untuk belajar.

Sudah dulu basa-basi yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?

Oleh: Anatasia Yuniarti Wadhas Wulan

“Bunda, hari ini ada pemeriksaan gigi di sekolah,” kata Jessy pada bundanya.
“Lho, bagus dong.” kata Bunda.
“Iya, sih. Tapi gigi depanku keropos. Aku khawatir kalau harus dicabut,” kata Jessy.
“Sayangku dokter tidak akan sembarangan mencabut gigi. Kalau tidak goyang tidak akan dicabut. Percaya deh sama Bunda.” Kata Bunda menyakinkan .
“Iya, deh.”
Dengan langkah penuh percaya diri Jessy memasuki halaman sekolahnya. Bundanya melambaikan tangan.
Saat diperiksa, dengan mantap Jessy menunjukkan giginya kepada dokter gigi.
“Wah gigimu rapi ya. Harus rajin gosok gigi sehabis makan, agar tidak keropos.” kata dokter gigi.
Jessy kembali ke tempat duduknya dengan lega. Benar kata Bunda, giginya tidak akan dicabut.
“Eh ... gigiku sudah goyang lho. Kata dokter, itu pertanda aku sudah besar.” Kata Siska saat sampai ke tempat duduknya.
“Kok aku belum goyang, ya?” tanya Jessy cemas.
“Ha... ha...ha...,” teman – teman menertawakan.
Melihat kkegaduhan itu, Bu Guru mendekati mereka,
“Semua orang memiliki waktu yang berbeda kapan giginya tanggal.” Bu Guru menjelaskan.
“Oooo...,” seru anak – anak seperti paduan suara.
“Aku kemarin tanggal gigi bawah,” kata Yuta.
“Eh... kalau gigi bawah yang copot harus dibuang ke atas genting. Nanti gigi barunya sepat tumbuh.” komentar Anggit yang sudah mengalami tanggal gigi dua kali.
“Aku meletakkan gigiku di bawah bantal. Eh, paginya berubah menjadi kado. Mungkinkah dari peri gigi, ya?” kenang Alfito tak mau kalah.
“Memangnya peri gigi itu ada?” tanya Jessy.
“Entahlah,” sahut Anggit dan Siska hampir bersamaan.
***
 “Bunda, peri gigi itu ada atau tidak?”
“Kenapa?” tanya Bunda.
“Aku mau dapat hadiah kalau gigiku tanggal,” kata Jessy penuh harap.
“Gigimu sudah ada yang goyang?” tanya Jessy penuh selidik.
“Hiii ...,” Jessy meringis menunjukkan giginya.
“Wah anak Bunda sudah besar dong,” kata Bunda dengan rasa bangga.
“Bagaimana caranya agar dapat hadiah, Bunda?” tanya Jessy penuh harap.
“Kalau cabut gigi sendiri pasti dapat hadiah,” kata Bunda sambil tersenyum.
Betapa senangnya mendapat hadiah dari peri gigi. Tetapi Jessy masih cemas membayangkan rasa sakit ketika cabut gigi. Bunda menyarankan untuk sering - sering menggoyangkan gigi agar tidak neyri saat dicabut.
“Bayangkan hujan jam tangan dengan gambar kartun kesayanganmu,” pinta Bunda sambil mencabut gigi Jessy.
“Eh, ternyata enggak sakit ya, Bun. Kenapa berdarah ya, Bun?”
“Ya, karena ada pembuluh darah yang rusak, jadi berdarah,” jelas Bunda.
“Bunda dulu juga begitu, ya?”
“Ya.... Tapi beberapa hari kemudian gigi baru akan tumbuh dan lebih kuat.”
Jessy menunggu gigi barunya dengan senang. Apalagi dia sudah mendapat hadiah jam tangan bergambar tokih kartun kesayangannya.

Senin, 27 April 2015

Kirim Cerita Anak/Dongeng ke Media? Siapa Takut!


Dulu, dulu sekali, aku pernah mengirimkan sebuah cerita anak (Cernak). Aku masih sering menulis. Menulis yang ringan-ringan saja. Aku lebih senang menulis cerita anak ketimbang cerita remaja.

Tadi, beberapa jam yang lalu seorang tema di Facebook sedang meneguk manisnya bahagia ketika dongengnya tembus media Padang Ekspres. Aku ikut bahagia. hal itu membuatku termotivasi untuk menulis, mengirim dan melupakannya.