Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

MeteoLove


Aku percaya kalau Rama akan datang bersama hujan meteor. Itu yang sudah ia janjikan. Janji itu selalu terngiang dalam ingatan.

Tiga hari lagi, hujan meteor phoenicids diperkirakan akan terjadi. Dan hari itu, sudah lama kunantikan. Di bukit bintang, kami akan bertemu. 

Aku akan datang dengan memakai longdress hijau, warna kesukaan kami berdua. Kami memang memiliki banyak kesamaan. Langit, bintang dan bukit. Kenapa bukit? Sebab Ramalah aku mulai menyukai bukit, mencintai malah.

Aku benci bukit seperti membenci abah, begitu aku menyebut kakek. Abah pergi ke Suroloyo, puncak tertinggi Pegunungan Menoreh, meninggalkan Iyung sendiri. Iyung sebutan untuk nenekku. Semua orang akan meninggalkan alasan ketika mereka pergi. Namun abah, ia sama sekali tidak meninggalkan alasan kepada iyung, aku dan ibu. Abah pergi begitu saja. Sepeninggal Abah, Iyung tampak melakukan aktivitas seperti biasa. Menganyam mendong dari subuh hingga menjelang asar. Iyung ikhlas melepas Abah pergi.

“Iyung, tidak mencari abah?”

“Abah pergi dengan kemauannya sendiri, untuk apa dicari.” Ucap Iyung datar. “Lagipula semuanya akan pergi.” Ini ke dua puluh satu kali Iyung menjawab dengan jawaban yang sama. Aku mulai hafal di luar kepala kalimat Iyung.

“Iyung ....”

Aku mulai tidak tahan melihat Iyung yang berpura – pura tidak terjadi apa-apa. Dalam hati, aku yakin, Iyung merasakan kesedihan yang dalam.

Dengan berbekal kenekatan dan secarik alamat di atas kertas buram yang pinggir-pinggirnya sudah di makan ngengat aku mengendarai maticku. Abah harus ketemu, batinku. Aku harus mencari tahu kenapa Abah pergi.

Sejak motorku macet dan aku mesti mendorongnya agar sampai di rumah Abah. Aku memanggil kakekku dengan sebutan abah. Hari itu untuk pertama kalinya aku ke Suroloyo, puncak tertinggi pegunungan Menoreh. Rute menanjak dengan jalan berliku, kanan – kiri tebing yang curam.


Sejak abah berpisah dengan iyung, abah memilih tinggal di Suroloyo, tanah kelahirannya. Iyung adalah sebutanku untuk nenek. 

Bersambung ...............

Sabtu, 07 November 2015

Cirebon Smart City, Kota yang Dinanti


Alisya menatap wajahnya sendiri di cermin. Sudah cantik, gumamnya dalam hati. Gamis berwarna ungu melekat di tubuh Alisya dengan kerudung paris berwarna merah muda melekat di kepala, ditambah bros kupu – kupu menambah ayu wajah Alisya. Sekarang ini memang sedang trend memakai busana dengan tabrak warna. Alisya juga menyukainya. Dengan pakaiannya saat ini, orang pasti menduga Alisya sedang jatuh cinta.

“Jatuh cinta.” bibir Alisya melengkung saat kata tersebut keluar dari bibirnya. Ada gurat kebahagiaan yang lekat di wajahnya.

Beberapa saat kemudian matanya tertuju ke jendela. Lalu beranjak dari meja riasnya menuju jendela. Seperti anak baru gede, Alisya meniup kaca jendela kemudian menuliskan dua buah nama, Bon dan Alisya, lalu melingkari tulisan tersebut dengan gambar sebuah hati.

Senyum Alisya mengembang kembali saat mengingat pertemuannya dengan Bon, lelaki yang membuatnya jatuh cinta. Lelaki yang telah membuatnya merasa sempurna selama 3646 hari ini. Cinta yang memberinya tiga bidadari dalam hidup Alisya.

Mengenang Bon, berarti mengenang Cirebon, mengenang saat pertama kali bertemu dengan Bon.

Alisya mengenal Bon saat kopi darat sesama blogger dari Komunitas Blogger Cirebon sepuluh tahun yang lalu. Acara itu di laksanakan di Aston Hotel Cirebon. Sebuah hotel bergensi di Cirebon, hotel yang pada akhirnya Bon pilih sebagai tempat untuk melamar Alisya bahkan melangsungkan pernikahan. Di hotel itulah, Bon mengajak Alisya mengenang, memutar kisah di masa silam.

Saat kopdar, Alisya mengenal sepintas saja siapa Bon, hanya sebatas nama dan domisili. Tak lebih. Dan jangan pernah membayangkan love at first sight. Alisya tidak akan pernah menerima istilah itu dalam hidupnya. Namun, tidak bagi Bon. Bon sering membuat gombalan bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Alisya tidak mempercayainya tetapi ia suka mendapat pengakuan semacam itu. Dasar wanita, tempat segala rayuan bermuara.

Dua hari setelah kopdar, tanpa diketahui Alisya, Bon sudah berdiri di depan rumahnya dengan membawa keranjang buah. Siapa yang sakit? Tidak ada. Bon merasa ia harus menjadi sosok yang anti mainstream. Bunga mawar tidak bisa di makan, begitu pikirnya. Bon, orang asing yang handal retorika berhasil membawa ibu, bapak, Alisya dan kedua adiknya ke Aston Hotel. Bon memakai jampi – jampi, itu yang Alisya yakini.

Di hotel tersebut, di hadapan ibu, bapak, dan kedua adik Alisya, Bon melamar Alisya. Gadis mana yang tidak klepek – klepek, bertekuk lutut dengan keheroikkan Bon, selain gadis bodoh. Alisya menerima. Dan, Bon pasti memakai jampi – jampi, itu yang selalu Alisya yakini.

Namun, pagi ini, tepat 3646 hari pernikahannya, ketika mendapati dirinya berada di kamar hotel, Ia menyadari, ini bukan jampi – jampi.

Lamunan Alisya ambyar saat nada dering dari Smartfren 4G LTE berbunyi nyaring. Ia beranjak dari jendela dan mengambil smartphonenya. Suaminya meneleponnya dari lobi.

“Sya turunlah, mari kita cuci otak.” Cuci otak dalam kamus hidup Bon adalah istilah untuk mengajak istrinya refreshing.

“Bahasamu mengerikan. Tapi baiklah, lima menit lagi.”

“Jangan lama – lama. Kapan lagi kita menikmati Cirebon Smart City. Lusa kita harus sudah di Ambon.”

***

Setelah keluar dari lift, Alisya mendapati Bon telah berdiri menunggunya.

“Kemana kita?” tanya Alisya saat berada di samping Bon dan mengandeng tangannya.

“Belajar sejarah.” jawab Bon singkat.

Alisya mengernyit.

Alisya dan Bon menaiki bus, transportasi digital, Transdig, orang Cirebon menyebutnya. Bus dengan sistem pengoperasian secara digital. Sopir itu sama sekali tidak memegang kemudi. Sopir akan menyentuh tempat yang tertera di layar. Dan Bus akan berhenti di depan tempat tersebut. Alisya sampai tercengang melihatnya.

“Sedang apa?” tanya Bon, saat mendapati Alisya tak jemu – jemu memandangi aksi sopir bus tersebut. Alisya menoleh.

“Aku pikir, mungkin kelak profesi sopir sudah tidak diminati lagi. Sudah tidak dibutuhkan lebih tepatnya.”

“Kau benar Sya, sekarang aja sudah tidak ada petani.” jawab Bon.

“Hah. Kok bisa! Apa mereka beralih profesi. Atau sawah sudah jadi gedung.” Secara kebetulan bus yang mereka tumpangi sedang berjalan di areal persawahan. “Lhah itu sawah. Kau pasti berbohong kan Bon.”

“Makanya kalau sedang dalam perjalanan jangan tidur. Tidak tahu kalau sekarang Cirebon sudah berubah menjadi smart city. Semua diatur secara digital.”

“Iya aku tahu. Aku sudah merasakannya dari mulai bandara hingga hotel, Bon. Tapi masalahnya kemana perginya petani? Itu sawah yang mengelola siapa kalau bukan petani.” tanya Alisya, lagi.

“Tuh lihat irigasinya sudah pake digital, diatur kapasitas airnya.” Bon menunjuk sebuah alat digital yang digunakan untuk mengatur sirkulasi air. “Aku yakin, mulai dari pembibitan hingga panen, semua dilakukan dengan alat digital. Sekarang, Cirebon sudah tidak memiliki petani. Yang Cirebon miliki adalah petani profesional.” jawab Bon, kemudian terkekeh.

Alisya memonyongkan bibirnya.

***

“Keraton Kasepuhan!” pekik Alisya setelah sampai di keraton. Beberapa penumpang memandang tajam ke arah Alisya. Alisya hanya melayangkan senyum yang dibuat – buat. “Kupikir belajar sejarah yang kau maksud adalah sejarah kita.”

“Mungkin ini saatnya mengenal sejarah orang lain.” kata Bon.

“Dulu aku sering kesini.” Alisya menggumam. Bon mendengarnya.

“Kau akan tahu ada yang beda dulu dan sekarang.”

Bon mengajak Alisya berjalan ke bangunan utama yang dapat ditemui setelah melewati benteng dan pendopo. Di pintu masuk bangunan utama tersebut terdapat LCD yang berisi informasi tentang bangunan utama.

“Jadi ini bedanya. Sekarang semua sudah menggunakan digital. Baguslah. Sangat di sayangkan Ire, Qila, dan Airin tidak ikut.”

“Nikmati saja kencan ini. Ire, Qila, dan Airin sedang asyik berenang di hotel. Ups, keceplosan.” Bon menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Jadi ....” Alisya tersenyum bahagia. “Terima kasih Bon. Mungkin mereka akan susah diajak pulang ke Ambon.”

“Kau benar.” keluh Bon.

“Kalau sudah begitu aku akan pensiun jadi ibu.” seloroh Alisya.

“Apa !!!” pekik Bon.

Alisya tersenyum lebar. “Tapi berubah menjadi ibu profesional. Kena deh!”

Tawa kemudian pecah di bibir Alisya. Sementara itu Bon masih memasang muka manyun.

***

Senin, 05 Oktober 2015

MEMOAR PROGO (Sebuah Cerpen)

Dan jika kau atau aku adalah bumi maka ia akan teratur berotasi. Berevolusi mengelilingi matahari, beredar sesuai garis edar. Serupa kita, bumi dan matahari. Kadang akulah bumi dan kau matahari. Kadang kaulah matahari dan akulah bumi.

Sungai Progo[1], kita pernah menyebutnya sebagai dunia kecil kita. Dunia bagi matahari dan bumi berekreasi. Kurasa kita pernah sedikit naif kala itu. Masih lekat dalam ingatanku, waktu itu musim kemarau. Aliran sungai Progo tak begitu deras, kau bermain-main air. Kau melepaskan sandalmu. Kakimu yang mungil menapak lincah di bebatuan yang legam. Lalu kau menyuruhku untuk melepas sandalku dan mengajakku turut serta.
“Tidak, aku di sini saja, bagaimana kalau ada cacing?” jawabku.
“Kamu yakin, tapi ini airnya sangat menyejukkan kakiku, bahkan sejuknya menjalar sampai ke hatiku. Apa kamu tak lihat wajahku berubah menjadi cerah saat pertama kali menginjakkan kaki di air ini?” Rayumu sambil memamerkan senyum yang selalu kau paksakan terlihat  indah. Aku hanya membalas tersenyum.
“Hey, lihat ada ikan kecil-kecil dengan noda di kepalanya. Wah ekornya juga menawan. Indah sekali.” Katamu kemudian. Sumpah, aku tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang pengagum sesuatu  yang unik tentu kesempatan melihat ikan unik sangat tak bisa aku lewatkan. Aku pun menghambur menghampirimu. Kakiku bersentuhan dengan air. Benar. Airnya menyegarkan kakiku. Aku serasa menjelma putri gurun yang menemukan air. Akhirnya kita pun berbincang tentang kekaguman akan ikan kecil bernoda di kepala. Menyatu dengan alam dalam dunia kecil yang kita buat.
Masih di dunia kecil kita, Kali Progo. Kali itu kau mengajakku memancing. Betapa senangnya aku. Tapi aku sangat tidak senang jika harus menaruh umpan cacing di pancing. Tak tega melihat kesakitan yang menimpa si cacing. Dengan cekatan kau membantuku. Kita menunggu cukup lama, namun ikannya belum juga menyangkut di kail kita.
“Sabar, ya begini memancing. Melatih kesabaran.” Ujarmu kemudian melihat aku sudah mulai bosan. Namun tiba-tiba pancingku bergerak. Akhirnya aku dapat ikan. Kala itu aku sangat-sangat bahagia. Kau juga. Sungguh. Memancing rupanya menyenangkan. Ya, inilah dunia kecil kita. Dunia bagi matahari dan bumi.
Masih di dunia kecil kita. Matahari berada di barat, lembayung senja sudah mulai tampak. Aku di sini, di antara angin dan rimbunnya hijau ilalang menanti ikan menyambar umpan yang kupasang. Mencoba mengulang kegembiraan beberapa tahun silam. Tapi di sini hanya aku. Tidak ada kita. Tidak matahari, tidak juga bumi.
Dulu dalam dunia kecil kita, seolah-olah aku mengenalmu lebih dari mengenal diriku. Tapi tidak rupanya aku salah. Salah besar.
Aku mengkerut dalam belenggu yang kau buat. Dalam sebuah dimensi dimana kau selalu ingin menjadi matahari dan aku bumi. Kau selalu matahari dan aku selalu bumi. Maka hari itu aku ingin memiliki sayap seperti sayap bidadari meninggalkan diri yang selalu sebagai bumi. Aku ingin ke sebuah dunia. Bukan dunia yang pernah kita buat beberapa waktu silam. Bukan. Sebuah dunia  yang tak mengerti bahasaku. Kau tahu kenapa? aku tak mau kau apalagi mereka merespon setiap hal yang kulakukan. Sungguh aku ingin menyendiri. Yah, aku ingin menyendiri.
***
Kuangkat kepalaku, mataku tertuju pada sebuah jembatan yang kokoh berdiri. Lalu kualihkan pada jembatan berukuran  kecil yang di sebelahnya. Itu adalah jembatan Progo lama. Dua tiang penyangganya hampir ambles akibat arus sungai yang deras. Pantas saja, jembatan itu adalah jembatan peninggalan Belanda. Sekarang sudah tidak digunakan lagi. Ada untungnya juga ambles karena kemudian di bangun jembatan yang baru, yang jauh lebih besar tentunya.
Di samping itu ketika ramadhan datang, kesanalah tempat favorit kita. Sehabis subuh kita akan jalan-jalan ke sana. Tidak hanya kita. Ada banyak anak muda seperti kita yang juga jalan-jalan di sana. Biasanya, ada beberapa anak jail yang sengaja menyalakan petasan akibatnya kita sering teriak-teriak tidak jelas. Tapi dari situlah ke asyikan yang  tak  bisa di beli dengan apapun.
Kadang kita bermain seluncuran di anak tangga waduk yang ada di bawah jembatan. Kita menyebutnya dam-daman. Sungguh sangat mengasyikan tempat itu. Sebuah tempat yang tak terlupakan. Namun siapa sangka di tempat itu pulalah kau pertama kalinya berucap bahwa aku introvert. Darimana kau dapat kata-kata itu? Kau sama sekali tak menjawab. Dan malah berbalik bertanya apakah aku satu-satunya temanmu? Pertanyaan macam apa itu? Harusnya kau mengenal aku?
Sejak saat itu kau jadi sering bilang bahwa aku itu introvert. Apakah kau sadar perkataanmu itu telah memasuki dimensi otak bawah sadarku. Lalu secara tidak langsung akupun sering melabelkan kata-kata itu dibenakku. Aku introvert. Lalu, apa kau mau bertanggung jawab dengan ulahmu. Aku yakin kau akan lepas tangan dari semua ini.
Dan lagi, suatu ketika di hari yang tak kuduga, kau berucap bahwa aku sama sekali tak punya empati pada orang lain. Bahkan kau menyuruhku untuk menumbuhkan empati itu. Lagi-lagi kau memberikan aku lebel yang kubenci dan tak pernah kulakukan. Sungguh aku masih memiliki rasa empati. Kau saja yang tak meyadarinya. Kau salah lagi kali ini. Introvert bukan berarti tak punya empati. Keintrovertan yang kau sematkan padaku mungkin menjelma sebuah pembuktian empati yang jauh berbeda dengan caramu, dan semua itu seperti telah ada dalam tubuhku.
Kau mulai selalu ingin menjadi matahari, lantas aku menjadi bumi, beredar mengitarimu seperti yang kau mau.
***

Benar sekali. Aku akan selalu menyalahkanmu atas setiap perubahan dalam diriku yang semua itu berasal dari setiap perkataanmu yang seolah ia adalah sebuah wejangan tapi nyatanya ia adalah pe-lebel-an negative meskipun itu tak pernah kau sadari sedikitpun.
Namun, entah kenapa aku sama sekali tak ingin membencimu. Sebaliknya aku ingin mencintaimu seperti aku mencintai adikku. Sungguh aku ingin melakukannya, sekarang, nanti dan bahkan kelak. Kemudian ketika aku mencintaimu, biarkanlah aku mencintaimu dengan cara-caraku. Please, kali ini jangan kau minta aku mencintaimu seperti cara kau mencintai. Aku yakin ini tak akan berhasil. Untuk masalah ini biarkan aku menjadi diriku, dengan label yang kusematkan sendiri. Bukan darimu.
***
Aku masih sangat hafal aroma parfummu. Tidak, ini sama sekali bukan aroma parfummu. Lalu ini aroma parfum milik siapa? Ku dengar akhir-akhir ini kau sering sekali bertemu dengan Sri. Kalian sering jalan bersama, dan makan bersama. Apa karena itu, aroma parfummu menjadi seperti aroma parfum milik Sri. Tapi aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Sri, jadi aku belum bisa membuktikan aroma parfummu seperti aroma parfum Sri. Kenapa aku menjadi membahas aroma parfummu? Sama sekali tak penting. Hanya saja aku tak mau kau kali ini menyuruhku mengganti aroma parfumku seperti aroma parfummu. Tidak. Jelas aku tidak mau. Apakah kamu mau tahu kenapa? Bukan karena aku tak menyukai aromanya. Itu semua karena aku belum benar-benar bisa mencintaimu. Sama sekali belum.
***
Di pagi bermendung kau mengirimiku sms. Kau bilang kalau hari ini kau akan mengajakku jalan-jalan. Dahiku mengeryit. Aku tercekat. Aku tak percaya, kau mengajakku. Kenapa mesti aku? Kenapa tidak Sri. Apakah kau sudah bosan dengan Sri? Lalu kau membuangnya begitu saja. Tega sekali kau. Habis manis sepah dibuang. Apakah kau juga akan memperlakukan itu padaku kelak, ketika aku benar-benar bisa mencintaimu. Hah, tapi itu mustahil aku mencintaimu. Sekalipun mustahil tapi jujur aku sangat ingin.
Smsmu belum juga kubalas. Sengaja. Aku ingin kau benar-benar menunggu balasan dariku. Seperti aku yang selalu menunggu balasan sms darimu hingga berjam-jam dan bahkan lebih sering tak kau balas. Aku ingin kau juga merasakan kejengkelan yang sama seperti yang aku rasakan.
Aku jadi teringat beberapa waktu yang lalu ketika aku lupa tak membalas smsmu. Akhirnya kau sms semua keluargaku agar aku membalas smsmu. Apa-apaan ini? Sungguh menyebalkan.
Kali ini apakah kau juga akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan tingkahmu. Kadang kau seperti candu yang meracuni otakku. Tapi kadang kau seperti madu.
Ku bayangkan saat ini kau sedang manyun menunggu balasan smsku. Coba aku saat ini ada didekatmu, ekspresi wajahmu pasti lucu. Haha.



[1] Kali Progo adalah salah satu sungai yang ada di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Sungai ini memisahkan antara kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.

Senin, 14 September 2015

Cerpen Mbah Mo dan Bulan September

karya Satmoko Budi Santoso



Setiap bulan September tiba, Mbah Mo selalu teringat akan masa lalunya. Ia tidak pernah paham kenapa dirinya kemudian dimusuhi, susah mencari pekerjaan, dan hidupnya terlunta-lunta karena banyak orang tak sudi untuk menolong. Sudah lebih dari separuh hidupnya, ia hanya bekerja sebagai pemulung, tanpa keluarga. Hidupnya juga hanya sembarangan, dari rumah kardus satu ke rumah kardus lain. Di pinggiran rel kereta api.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo ingat, di masa remajanya ia suka nonton pertunjukan tari di alun-alun.Ada seorang perempuan seksi yang biasanya ditunggu-tunggu untuk tampil di panggung. Berpakaian jarik dan kemben yang menonjolkan daging atas kedua buah dada. Banyak orang menyebutnya ronggeng. Penari inilah yang kemudian, seingat Mbah Mo, akan melagukan tembang-tembang Jawa termasuk di antaranya genjer-genjer. Mbah Mo hanya tahu bahwa ia sering sangat terpukau dengan penampilan perempuan seksi itu. Sebagaimana penonton lain yang di matanya sama terpukaunya. Maka, bagi yang punya uang berlebih akan memberikan saweran. Bagi yang nakal malah sekalian menyisipkan uang tersebut di lekukan vertikal dada sang penari!

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan selalu teringat, sudah puluhan kali ia menonton pertunjukan yang ada penari ronggengnya itu. Sampai suatu waktu, di malam hari, tiba-tiba saja listrik di kampungnya mati. Ia dibangunkan secara kasar oleh dobrakan pintu orang yang kemudian berteriak keras supaya ia keluar rumah. Beberapa orang di antaranya membawa obor. Salah satu di antaranya lantas memukul tengkuknya dan ia pun terkapar pingsan. Ketika siuman, ia sudah berada di tangsi tentara, bersama dengan teman-teman lainnya, seusia.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo terkenang dengan teman-temannya itu, teman-teman yang setiap harinya menemani lari-lari keliling tangsi, push up dan jika tak mampu melakukan semuanya dengan baik, maka akan ada hadiah popor senapan melayang ke badan.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan selalu ingat, sejumlah tentara memintanya jalan jongkok sampai tepat di depan salah seorang tentara. Tentara tersebut tidak memintanya berhenti. Maka, tentu saja, Mbah Mo menabrak kakinya. Dan ia marah. Lagi-lagi popor senapan mengenai punggungnya.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan ingat, seorang tentara menanyainya dengan banyak pertanyaan.

”Kenapa kamu orang suka pertunjukan penari ronggeng itu?” demikian salah satu isi pertanyaan itu.

”Saya suka karena cantiknya. Yang penting memikat hati, putih, dan mulus,” begitulah jawaban jujur Mbah Mo yang malah dikira main-main oleh si tentara dan membuat pundaknya kembali mendapatkan dampratan popor senapan.

”Tahu nggak apa itu genjer-genjer?”

”Tahu. Nama sayuran. Nama daun. Enak jika dimasak. Saya paling suka dioseng-oseng.”

”Oseng-oseng popor maksudmu?!” dampratan popor kembali mengenai pundak Mbah Mo.

Dalam hitungan pagi hari saja, Mbah Mo ingat, pernah ia sarapan popor senapan sekitar lima kali. Itulah pengalaman Mbah Mo yang dalam ingatannya disebut sebagai apel pagi. Pengalaman itu bisa saja setiap hari. Bisa beda tentara yang menanyainya, namun pertanyaannya bisa sama. Tentu, Mbah Mo menjawabnya akan sama, karena hanya jawaban itulah yang ada di dalam otaknya.

Setiap bulan September tiba pula, Mbah Mo lebih suka banyak di rumah kardusnya. Tiduran. Merokok. Minum seadanya. Di jalanan, di bulan Sepember, kalau ia bertemu dengan tentara, ia masih suka mak tratap, kaget bukan kepalang. Anehnya, itu hanya di bulan September. Jika tidak di bulan September, ia biasa saja ketika bertemu dengan tentara.

Juga di setiap bulan September tiba, Mbah Mo lebih banyak cemburu melihat anak-anak muda yang dulu ketika ia seusia segitu, lebih banyak berada di dalam penjara. Kesibukannya hanya membersihkan rumputan sekitar penjara, memijiti kawan-kawannya senasib dan menuruti kemauan sipir untuk mengurusi ternak ayam, kelinci, bebek, atau apa pun milik mereka. Mengurusi kotorannya, memberi makanan dan minuman, namun tak pernah merasakan panen. Maka, begitu di masa sekarang ia melihat anak-anak muda yang begitu banyak se-nyum di jalanan, saling berangkulan dengan pacarnya begitu mesra, rasanya Mbah Mo hanya bisa merutuk kepada Tuhan.

”Ya Tuhan, apakah kamu memangbenar-benar adil?”

Tentu Mbah Mo tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaannya. Yanog pasti, yang ia rasakan,semenjak muda lebih banyak hidupnya menderita. Padahal, menurutnya, ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia hanya berbuat sesuai hati nurani, yang ia sukai, tanpa pernah merugikan orang lain. Namun lebih banyak orang menganggapnya salah.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan terkenang dengan teman-temannya sesama di penjara, yang lebih banyak sudah tiada. Sebagian ada yang hidupnya di hari tua sakit-sakitan. Selalu mengeluh katanya tulangtulangnya terasa remuk. Ada yang semenjak di penjara dan di hari tuanya tuli kedua telinganya. Ada yang kedua kakinya pincang, tangannya hanya berfungsi satu, dan yang lain.

Pernah, ada seseorang bertanya pada Mbah Mo. Ngakunya sebagai wartawan. Ia menanyakan apakah Mbah Mo dendam terhadap tentara? Mbah Mo menjawab cekatan dan tegas, tidak. Sebab, menurut Mbah Mo, pada saat itu mereka juga tidak tahu apa- apa. Mereka hanya bekerja saja. Bekerja. Itulah yang menurut Mbah Mo menjadikan tidak salah. Maka, tak perlu didendami, tak perlu dibenci.

Pernah pula, wartawan itu bertanya, apa yang Mbah Mo inginkan jika misalnya putaran waktu bisa berbalik? Di masa muda ia tak menemui popor senapan? Menurut Mbah Mo, jika nasib bisa kembali berbalik, ia hanya ingin hidupnya nyaman ketika nonton tarian, ketika nonton ronggeng. Ia hanya ingin kesukaannya tidak ada yang mengganggu. Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin yang berlebih, ia hanya ingin ke mana-mana bisa tidak dipersalahkan. Apalagi memang ia sangat yakin, tidak pernah membuat kesalahan. Kecuali jika ia memang membuat kesalahan, wajar jika mendapatkan hukuman.

Setiap bulan September tiba, Mbah Mo selalu lebih banyak berdoa: ia ingin sehat lebih lama lagi. Apalagi, tubuhnya tidak ada yang mengalami cacat berarti. Pendengarannya tetap baik, matanya tetap awas, bicaranya tetap lancar, napasnya tetap teratur dan kondisi tubuhnya tetap segar meskipun usianya sudah kepala delapan. Mbah Mo hanya tahu, harapan satu satunya yang menenangkan hidupnya hanyalah berdoa. Meskipun hingga di hari tuanya pula, ia masih merasa belum menemukan jawaban atas pertanyaannya kepada Tuhan: apakah memang apa yang diberikan Tuhan padanya sudah cukup adil?

Perum Kasongan Permai,
Agustus 2015


Jumlah kata : 947
Karakter tanpa spasi : 5.554
sumber : Epaper SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu, 13 September 2015 hal. 16

Apabila ada penulis yang merasa keberatan cerpennya saya "klipingkan" di blog saya. bisa langsung menghubungi email saya inay9389@gmail.com. Dan cerpen tersebut akan segera saya hapus.Terima kasih.