Tampilkan postingan dengan label Lakon Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lakon Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2024

Mungkin Tips Menang Lomba

Ini adalah tulisan receh seseorang yang ingin kembali menulis. 

Beberapa bulan yang lalu aku mulai suka (lagi) ikutan lomba-lomba. Kalau dulu sering ikutan lomba blog, sekarang lebih suka ikutan lomba reel ig. Dan, aku seperti menemukan diriku yang dulu. Diriku yang seneng banget ikutan lomba demi cuan. Walau seringnya cuma dapat hadiah hiburan. Hahaha.

Walaupun begitu patutlah disyukuri. Alhamdulillah. Allah kasih rizki lewat situ.

Tulisan ini bukan bermaksud pamer atau apalah. Yah, sebagai kenangan saja. Dan pengingat bahwa aku pernah lho menang. 

Lalu apa aja yang udah kudapatkan lewat lomba reel ig itu. 

1. Smart watch



Ini hasil ikutan challange dari atw solar. Gak nyangka juga sih bakal juara 1. Alhamdulillah. Karena aku orangnya gak tahan pakai jam, jadi kuhadiahkan buat suamiku. Btw jam suamiku kan rusak. Rezeki suami. 


2. Paket makanan








Ini hadiah dari ikutan reel challange lkcdompetduafa. Dapat hadiah hiburan. Enak gula semutnya. Beras merahnya belum kumasak. Lkcdompetduafa ini sering banget ngadain lomba lho. Baru kemarin aku upload reel ig buat ikutan challange tema merdeka dalam kesehatan. Semoga menang. Aamiin.

Kalau lihat jumlah yang ikutan lebih sedikit dari yang dulu. Dan itu fakta yang bagus. Kemungkinan menang lebih besar. Hahaha. Tapi aku memang lebih suka ikutan lomba yang pesertanya sedikit. Hihihi ini sekedar tips biar kemungkinan menang lebih besar.

Dan sudah kubuktikan lho. Hihihi. Walau hasil videoku pas-pasan. Tapi terbukti menang.

Belum lama ini aku menang juara 2, dapat emoney 200rb. Alhamdulillah.

Tips kedua, buat narasi dalam video maupun caption yang baik. Jadi memang kudu riset. Paling gak googling lah ya. 

Aku biasanya males ikutan challange yang pemenangnya ditentukan jumlah like. Kenapa? Karena mustahil bagi akunku yang hanya 200 an folower dapat banyak like. Bisa dapat 10 like aja alhamdulillah. Itupun harus sebar link sana sini. 

Oya kalau mau tengok hasil karyaku, boleh lho tengok igku. @ibukkreatif. Kenapa kok nama ignya kaya gitu. Bukan karena aku kreatif. Tapi itu adalah doaku biar aku kreatif. Aamiin. Boleh lho kalau mau ikutan mengaminkan. 

Tips ketiga, jangan malas. Ini musuh utama sih. Cara atasinya tanyain pada dirimu sendiri.

3. Dapat paket buku











Ini kudapatkan dari dar mizan. Lomba reel ig juga. Ini aku juga optimis menang. Bukankah Allah bersama prasangka hambanya.

4. Buku-buku hadiah giveaway.
Ada beberapa buku yang belum kufotoin. Aku dapat dari giveaway. 

5. Saldo sopi. 
Waktu itu ikutan challange tentang makanan. Dan dapat 50rb. Lumayan. 

Itu saja sih. Satu PR ku sekarang. Lomba dengan diriku sendiri agar bisa menulis, terutama menulis opini. Semoga aku bisa menang melawan diriku sendiri. Yuks. Bisa yuks diriku. 

Maka tulisan ini adalah upayaku agar aku kembali ke jalur yang pernah kuinginkan. Penulis. Bismillah. Menulis diblog juga termasuk menulis kan. 






Jumat, 30 Oktober 2015

Adekku Beranjak Dewasa

Sebut saja namanya Winnie, bukan beruang madu. Saat ini ia masih kuliah semester 5 di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Kami tumbuh di keluarga yang SSS (sangat sederhana sekali). Aku akui aku enggan melabeli keluarga kami keluarga miskin. Kenapa? Karena Alhamdulillah, dengan rahmat Allah keluarga kami selalu bisa makan meskipun seadanya. Takut kufur nikmat.

Pagi ini, Winnie memberiku pesan singkat yang fantastis. Perihal "ta'aruf". Ia menanyakan bagaimana jika ia ta'aruf. Ah, anak ini selalu membuat anomali. Aku yakin, ada seseorang di belakangnya yang provokatif. 

Bagaimana sikapku? Tentu aku fine - fine saja. Ia mau ta'aruf sekarang atau nanti ketika sudah lulus kuliah. Hanya saja ada beberapa hal yang mesti ia pikirkan. Aku tahu, nikah adalah sunnah Rasul Muhammad saw. Juga merupakan penyempurna setengah agama. Dan dengan kondisi keluarga kami, aku juga yakin bahwa riski itu minnallah, sebagaimana kami selalu yakin bisa makan untuk esok hari.

Aku berharap postingan ini akan menjelaskan apa yang aku pikirkan, duh udah kaya pertanyaan di facebook.
  1. Pertama, ini bukan masalah siapa yang duluan nduk. Aku harap menikah itu bukan karena terprovokasi orang lain dan juga bukan karena saat itu ada ikhwan yang sedang mencari akhwat. Jika memang keadaannya demikian, bersiaplah untuk kecewa. Karena sesuatu yang datang dari provokasi itu jauh lebih mengerikan.

    Aku juga tahu nduk, untuk masalah serba serbi nikah kamu sudah mempunyai ilmu-lah secara kita dibesarkan bersama - sama. Yang mesti kau camkan dalam dirimu adalah ketika kau memutuskan untuk ta'aruf berarti kamu memang sudah benar - benar siap dalam bulan itu bahkan minggu itu akan berubah status menjadi istri orang. Dan kamu juga harus siap jika Gagal. Dan aku tidak ingin kamu "Gagal" nduk. Sungguh.
  2. Kalau kau berargumen bahwa "Kan nggak bisa langsung jadi, Mbi. Temenku aja udah berkali - kali belum berjodoh. Bahkan baru menikah setelah 17 kali ta'aruf. Kita kan harus usaha dulu."

    Kalau itu yang ada dalam benakmu sekarang, please urungkan niatmu untuk melakukan taaruf saat ini. Karena belum apa - apa kamu sudah berasumsi buruk. Apa kau lupa, prasangka selalu berbanding lurus. Sekalipun banyak juga yang tidak. hehehe.
  3. Ridho orang tua. Yah, ini penting banget. Aku yakin seyakin - yakinnya bahwa umi belum akan mengijinkan. Apa kau lupa peristiwa yang lalu - lalu. hehehe.
  4. Bersikaplah idealis-realistis. Kurasa kamu perlu memikirkannya kembali. Tentang umi, terutama. Tapi kalau memang bener - bener semuanya Oke, Gue mah oke - oke saja nduk. Sungguh.
Aku tahu, kau telah cukup dewasa untuk memutuskannya. hahaha. Tapi, aku salut kau mau berpikir ke arah sana nduk. hihihihi.


Bagiku hari ini adalah hari di mana kamu berubah jadi kupu - kupu. Ah, tapi tetap aja unyu. :)

Kamis, 22 Oktober 2015

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid 1


Ali bin Abu Thalib, Laki –Laki Pertama yang Masuk Islam

Ibnu Ishaq berkata, “Orang laki –laki pertama yang berima kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam, shalat bersama beliau, dan membenarkan apa yang beliau bawa ialah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hisyam. Pada saat ia masuk islam, ia berusia sepuluh tahun. Diantara nikmat yang diberikan Allah kepada Ali bin Abu thalib adalah bahwa ia hidup di bawah asuhan Rasulullah sebelum islam.[1]

Masuk Islamnya Zaid bin Haritsah

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka’ab, mantan budak Rasulullah masuk islam. Dia laki – laki pertama yang masuk islam dan shalat sesudah Ali bin Abu Thalib.[2]

Zaid adalah anak Haritsah. Dikisahkan bahwa hakim bin Hizam bin Khuwailid tiba dari Syam dengan membawa budak – budak di antaranya adalah Zaid bin Haritsah dan anak kecil yang belum baligh. Kemudian Khadijah binti Kuwailid datang kerumahnya dan Khadijah diminta memilih salah satu diantara kedua budak tadi. Khadijah memlih Zaid.

Rasulullah tahu bahwa Khadijah memiliki Zaid dan Rasulullah meminta menghadiahkan Zaid kepada beliau. Zaid dihadiahkan kepada Rasulullah dan Rasulullah memerdekaan Zaid dan mengangkatnya menjadi anak angkat. Ini terjadi sebelum wahyu turun kepada Rasulullah.

Masuk Islamnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Abu Bakar bin Abu Quhafah.” Ibu Hisyam berkata, “Nama Asli Abu Bakar adalahAbdullah, dan Atiq adalah julukannya, karena ketampanan wajahnya dan pembebasan budak yang ia lakukan.

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Bakar masuk islam, ia memperlihatkan keislamannya, dan berdakwah kepada Allah dan RasulNya.

Abu Bakar adalah orang yang diterima kaumnya, dicintai, mudah, orang quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, dan orang Quraisy yang paling ahli tentang Quraisy; kebaikannya dan keburukannya. Selain itu, ia seorang pedagang yang berakhlak mulia dan baik hati. Tokoh – tokoh kaumnya datang kepadanya dan senang karena ilmunya, perniagaannya, dan tanggapannya yang baik. Ia ajak orang –orang yang dipercayai di antara orang –orang yang sering datang kepadanya dan ngobrol dengannya tentang Allah dan Islam.”[3]

Orang – orang yang masuk islam karena dakwah Abu Bakar ra.
1.       Utsman bin Affan
2.       Zubair bin Awwan bin Kuwailid
3.       Abdurahman bin Auf
4.       Sa’ad bin Abu Waqqash
5.       Thalhah bin Ubaidillah

Setelah mereka berlima merespon dakwah Abu Bakar, ia membawa mereka kepada Rasulullah. Kemudian mereka masuk islam dan melakukkan shalat bersama.

6.       Abu Ubaidah dan orang –orang lain.
Untuk kelanjutannya silahkan beli Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. J


[1] Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al- Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid 1, (Jakarta: Darul Falah, 2009), hlm. 209.
[2] Ibid, hlm. 211.
[3] Ibid, hlm. 213.

Pesona Sunrise di Bawah Galian Rupiah


Ketika ramadhan, beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa anak desa menyempatkan diri untuk jalan – jalan ke sebuah bendungan di bawah jembatan Progo. Masyarakat setempat menyebut bendungan itu dengan istilah dam – daman.

Dam – daman itu tidak jauh dari dusun kami sehingga kami berangkat selepas subuh dengan berjalan kaki. Letaknya  50 meter di belakang Balai Desa Brosot, kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo. Kabut tebal di sertai  udara dingin menggigit kulit kami. Namun, keceriaan dan semangat kami menghilangkan rasa dingin itu. Setelah melewati jalan beraspal yang sering di lewati mobil pribadi seperti Avanza Velos, Avanza Grand Max dan truk – truk pengangkut pasir, kami menuju tanggul sepanjang Sungai Progo.



Perjalanan kami lalui selama 15 menit. Sampai di sana telah banyak anak – anak sedang menyalakan petasan. Sementara kami langsung menuju pagar memadangi sunrise. Di timur, semburat orange mulai tampak, tanda mentari mulai menjulurkan lidahnya. 

Selama sepuluh menit kami menikmati matahari yang hampir terbit. Tetapi karena ulah beberapa anak laki – laki berulah menyalakan petasan dan melemparkannya kepada kami. Kami berjalan ke bawah, kami ingin menginjakkan kaki di atas kerakal dan bermain air sungai Progo yang berarus lumayan besar. 
Namun, sebelum itu, kami meluangkan waktu untuk bermain prosotan terlebih dahulu untuk memacu adrenalin.


Setelah puas memacu adrenalin, kami langsung turun ke bawah sungai melewati padang yang rumputnya melebihi tubuh kami. Di samping padang itu, sebuah jalan truk yang telah mulai terlihat truk pergi mengangkut pasir. 

Galian Rupiah Sungai Progo

Tumpukan krakal bekas galian pasir membentuk gundukan – gundukan yang mengakibatkan aliran sungai progo berkelok – kelok. Saat kami bermain di antara bekas galian pasir itu, tidak ada lagi penambang yang menambang pasir di situ. Mereka sudah berpidah ke selatan. Penambangan pasir tersebut hingga postingan ini dibuat masih berlanjut. Dan menurut beberapa informasi yang saya dapat mereka menambang tidak lagi secara manual tetapi dengan alat sedot. Bisa dibayangkan, bila hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, dikemudian hari akan terjadi dampak buruk yang mengerikan seperti longsor. Saya ngeri membayangkannya, tetapi bagaimana, suara saya tidak mampu memcegat ulah usil tangan mereka.







Sekarang mereka bisa menikmati uang yang melimpah, tanpa memikirkan anak cucu mereka. Uang memang kerap membutakan hati nurani. Terlepas dari semua itu sunrise di bawah sungai Progo benar –benar memukau.  

Senin, 19 Oktober 2015

Ngeblog : Mengeluarkan Isi Kepala

Bismillahirahmanirrahim

Berdoa dulu sebelum memulai menulis postingan kali ini, semoga Allah meridhoiku sehingga aku bisa memenangkan kompetisi blog yang diadain oleh Emak Gaoel, Go For It. Ngarep banget. Yap, postingan ini memang khusus ngejawab dua pertanyaan dari empunya blog emak gaoel, Kak Winda.

“Apa yang kamu kejar dari kegiatan blogging-mu?”

Sejujurnya, aku sedikit bingung mau menjawabnya dari mana. Ceritanya panjang sepanjang sungai di deket rumahku, sungai Progo. Tapi aku bisa kok menyingkatnya menjadi seluas kolam lele di belakang rumahku.

Awal aku mengenal blog hanya  sekedar untuk curhat dan berbagi hobiku, yaitu yang berhubungan dengan kerajinan tangan. Itu sekitar tahun 2010. Beberapa blog sudah kubuat dan terpaksa menjadi sarang laba-laba saja. Di penghujung tahun 2014, keinginan mendapatkan penghasilan dari blog , google adsense terciptalah blog ini. Yang endingnya zonk. Hahaha. Aku ditolak. Rasanya tuh sakit banget. Tapi dari situ aku belajar.

Aku pun akhirnya mencoba adsense dari youtube. Kata para suhu mudah daftar lewat youtube. Dan ternyata benar. Aku diterima jadi mitra youtube. Tapi ternyata kagak bisa digabung adsensenya. Hiks. Blogku harus non hosted dulu. Hihihi. Untuk ke sana masih butuh banyak belajar. Tapi, kalau UUD (ujung –ujungnya duit) aku meraihnya dengan slow aja.

Dan sekarang aku telah berbesar hati kok. Kesimpulannya  untuk saat ini, aku tidak terlalu mengejar sesuatu melalui blog. Blog hanya kugunakan untuk sekedar …. Untuk ….

Menumpuk tulisan dan isi kepalaku saja

Sedangkan untuk penghasilan kucari lewat jalan lain saja (jadi perator warnet). Kenapa kamu tidak berjuang lebih keras lagi? Mungkin ada yang akan membatin pertanyaan tersebut. Kujawab dengan tulisan “Aku kan sudah punya adsense di youtube, itu dulu aja yang kuoptimalkan. Fokus nih ceritanya.”

Jadi teringat quote seorang teman facebook yang aku yakin dia sama sekali tidak kenal dan sadar bahwa kata –katanya selalu kujadikan sebagai alarm bagi diriku. Begini kata –katanya, “Fokuslah pada apa yang kau tuju seperti seorang pelari. Ia tidak akan meninju orang lain karena lawan sebenarnya adalah dirinya sendiri.”

Dan untuk pertanyaan ke dua, “Aplikasi apa saja yang dipakai dalam membuat tulisan lomba tersebut?” (dalam bentuk cerita)


Aku paling sering edit foto tuh pake photoscape, udah itu doang. Lebih sering sih nge-crop gambar dan menjernihkan gambar aja. Tapi ya itu ngedit –ngedit begituan sering membutuhkan banyak waktu. Maklum masih amatiran. Di bawah ini hasil editanku yang amatiran.

before


after

BTW kok bagusan tanpa edit ya, hehehe. Ngerasakan hal yang sama? Berarti memang aku harus belajar lebih keras lagi. Meramu rasa seni....

Sabtu, 03 Oktober 2015

Berguru pada Kenangan.

Pada suatu hari yang membuat harga diriku berasa tidak bernilai, ura aji, begitu kiranya dalam bahasa jawa, aku mensetting pikiranku agar aku tidak bersikap sentimentil ala anak abg. Dari sana aku belajar tentang arti sebuah nilai. Aku yakin saat itu , Allah sedang mengajariku bagaimana menghargai sebuah nilai. Malas rasanya bercerita tentang peristiwa waktu itu, tapi demi sebuah pelajaran aku merelakan untuk mengutarakannya dalam sebuah cerita. Aku menuliskan cerita penuh pelajaran ini dalam keadaan sadar di antara kicau burung dan lantunan suara ayat – ayat Al quran dari perempuan berkerudung pelangi. Aku sedang berada di masjid Agung Manunggal Bantul.


Sebut namanya Mister T, ia adalah satu – satunya dosbingku. Seminggu yang lalu, pada hari Senin, aku membuat janji dengan Mister T. Beliau berkata bahwa untuk minggu ini jadwl penuh, Mister T menjanjikan hari Rabu depan. Dan ketika hari Selasa aku mengkonfirmasi ulang terkait bimbinganku. Mister T menjanjikan mempunyai waktu jam 4 sore. Aku pun mengatur ulang jadwal agar aku bisa bimbingan dengan Mister T. Tibalah hari Rabu, aku sengaja mengambil sedikit jam untuk masuk kerja partime di sebuah warnet agar aku bisa menyelesaikan laporanku. Aku berencana jam 3 sore berangkat langsung ke kampus. Tak tahunya ketika selesai membuka mukena biru, sehabis shalat dhuhur, waktu itu jam di handphoneku menunjuk angka 13.12, ada sebuah pesan masuk dari seorang teman, sebut saja Iva.

“Mbak, hari ini ada janjian dengan Mister T ya? Sudah ditunggu sekarang oleh Mister T.”

Whaatttt.

Kau tahu apa yang kurasakan. Aku merasa tidak bernilai saat itu. Sungguh. Aku tahu ini adalah perasaan lebay dan alay seorang perempuan yang berumur setengah abad. Aku akui ini adalah asumsi yang harusnya tidak kupupuk hingga membuahkan prasangka buruk. Tapi bagaimana? Saat itu pertama kali yang terpikir adalah seperti itu.

Aku merasa menjadi manusia paling tidak dihargai sedunia, hina dina, remeh – temeh. 

Kenapa Mister T tidak langsung saja mengkonfirmasi kepadaku lewat sms sendiri? Kenapa harus melalui orang lain? Apa  dia tidak punya nomorku? Padahal aku kemarin sms Mister T. Kurasa ia tidak pernah menyimpan nomorku. Ya siapa aku, yang nomornya harus disimpan. Orang tidak penting. Di sinilah aku merasa menjadi orang paling tidak berharga, tidak penting, dan hina. Aku sedang berhadapan dengan orang penting yang bisa seenak dirinya untuk mengubah bahkan membatalkan sesuatu.

Sentimentil bukan.


Sepanjang perjalanan menuju kampus aku merenung. Perjalanan di atas motor memang waktu paling asyik buat melihat ke dalam diri. Aku mulai menyadari bahwa rupanya aku telah salah menempatkan perasaan tidak penting, tidak berharga, hina dina, dan remeh. Harusnya perasaan itu bukan kutujukan pada manusia melainkan hanya kepada Allah. Astagfirullah.

Kamis, 01 Oktober 2015

Kunjungan Pertama Ke Perpustakaan Kota Yogyakarta

Ceritanya pagi ini, aku ingin nyempetin nyuci jilbab yang udah menumpuk di pojokan, di balik pintu kamar. Dari pagi sudah kurendam dengan sesachet rinso sekali kucek dan kutinggal bikin bacem tempe dan sambel. Sengaja memeng, berharap tuh kotoran yang melekat dalam pakaian rontok seketika.

Tak tahunya tangan ini gatel buka netbook, karena semalem aku minta beberapa foto kami "f4" (aku, adek unyu, Sitmay and Uli) saat kami lagi di pantai. Ku edit - edit deh tuh foto dengan photo scape. Pas aku lihat jam di dinding dekat jendela kayu yang di bawahnya kuletakkan sebuah radio, waktu sudah menunjuk pukul 07.45. Di saat yang sama Uli sedang memakai kaos kaki yang sudah memudar warnanya. Katanya ia mau pergi ke Perpus. And reflek aku bilang, "Ikut." Gubrak sekali. Padahal pagi ini aku berencana mencuci kemudian pergi ke kampus ambil buku yang kemarin tidak jadi kufotokopi. Tak apalah. WKWKWKWK

"Ul, ikut. Tapi aku belum mandi. Oke. Lima menit, Eh sepuluh menit deh." kemudian aku langsung tancap gas mandi.

Di perjalanan kami mampir dulu ke maktab. Jalanan di hari kamis jam sembilanan tidak semacet jalanan di pagi hari. Tapi ya itu, tetep saja banyak pengguna jalan yang ngerasa jalan tuh jalan milik pribadi, sembarangan belok.

Dan setelah muter - muter, jujur kalau aku di suruh ke sini sendirian, bakal nyasar. Apesnya lagi ketilang. Hehehehe.


Gambar diambil dari perpustakaan.jogjakota.go.id 

Suasana yang pertama saat kaki ini menginjak di corblok halaman Perpustakaan Kota Yogyakarta adalah takjub. Sumpah aku takjub. Banyak banget yang ke perpustakaan. Jadi ingat icon kota jogja adalah kota pelajar. Ya secara otomatis banyak orang yang belajar.

Kalau menurut aku, Perpustakaan Kota Yogyakarta ini adalah perpustakaan terunik dan keren dari beberapa perpustakaan yang pernah kukunjungi. Memangnya sudah berapa perpustakaan yang kamu kunjungi, tanyaku pada diri sendiri. Mmmm, dan kujawab, dua. Gubrraaaakkk.

Desain tempat dan warna colorfull Perpustakaan Kota bagiku cantik banget, ya seperti aku gitu. Hueek. Nyaman.Dari tempatku duduk sambil menulis postingan ini aku dapat melihat remaja -remaja muda yang masuk dengan motor maticnya karena hampir seluruh bagian depan perpustakaan ini di disain berkaca. Hmmm, jadi kepikiran global warming. By the way, teman - teman nggak bakal kepanasan deh. Di dalam sini itu adem meski tak seadem masuk ke dalam lemari es. Ah, aku jadi kepikiran Global Warming lagi. Bagaimana ini ....???

Hal lain yang menarik dari perpustakaan ini adalah petugasnya. Kenapa?? Karena sepanjang yang kulihat petugasnya muda -muda. Kagak ada yang tuir. hehehehe. Bisa cuci mata, begitu kata Uli. Oops.

Cuma ya itu ada beberapa hal yang sedikit rempong, saat masuk aku  ditawari mau loker berkunci apa tidak? Kalau mau, aku harus memberikan jaminan uang 10 ribu. Apesnya loker berkunci yang kuterima sama sekali tidak bisa dikunci. Tapi tak apa, toh tidak ada barang berharga yang ada dalam tasku. Netbook kubawa masuk, dan dompet kutitipkan diloker Uli. Kalau menurutku semua keribetan tadi sebenarnya bermaksud baik. Demi keamanan. Okelah.

Buat teman - teman yang ingin ke Perpustakaan Kota Yogyakarta yang ingin memanfaatkan wifi, harus nulis nama biar dapat username n pasword untuk login. Tapi ya itu, kamu harus bersabar, karena koneksi menyiput. Maklum yang gunain bejibun, oooee.

Penampaan loginnya seperti di bawah ini.


Jumat, 07 Agustus 2015

Pernikahan yang Dirindukan


Pagi ini, ketika melewati salah satu jalan menuju tempat kerja, sebuah tenda berwarna putih berdiri tegak, memamerkan keanggunannya. Di depan tenda itu, sebuah sungai melintang, di depannya dua buah mobil anvanza berwarna silver berjajar rapi. 
Tyas ada di depan salah satu mobil itu. Ia sedang memandangi bingkai koin-koin dan lembar-lembar uang yang ditata apik serupa burung merak. Bingkai itu jauh-jauh hari ia pesan kepada seorang kawan. Dada Tyas serasa penuh. Gelisah yang sedari malam mengobrak-abrik tidurnya, masih ia rasakan pagi ini. Pagi ini, gelisah itu semakin memuncak. Dalam hati ia terus merapal satu kalimat yang akan mengubah dunianya. Sebuah akad. Iya, akad yang ia nantikan setelah dua puluh tujuh tahun.  
Ia membayangkan paras gadis yang selama dua tahun ini memenuhi pikirannya. Gadis yang kelak menjadi permaisuri dalam istananya. Nuha, alangkah bahagianya kita, gumamnya.

Aku (Naurah) tiba-tiba menjadi gamang. Ada tujuh orang yang pada bulan syawal ini melangsungkan akad. Akad yang juga kurindukan. Pertanyaan berduyun-duyun menyerbu pikiran dan perasaanku, "Kapan?" Aku hanya bisa berdoa, semoga disegerakan.