Senin, 18 Mei 2015

Ringkasan/Resume Buku Filsafat Pendidikan Jalaludin dan Abdullah Idi Part 3

BAB 4
BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT MODERN DITINJAU DARI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Pengertian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Ontologi = ilmu hakikat ang menyelidiku alam nyata dan bagaimana keadaan sebenarnya.
Epistemologi = pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan
Aksiologi = menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik dan yang buruk.
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern
Aliran Progesivisme
Mengakui dan berusaha mengembangkan progresivisme dalam semua realita terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup  manusia, harus praktis dalam melihat sesuatu dari segi keagungannya. Tokoh-tokoh aliran ini adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller dan George Santayana.
Pandangan ontologi
Asal keduniaan adalah kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas sebab kenyataan lama semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia.
Pengalaman adalah perjuangan sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Manusia akan tetap hidup dan berkembang jika ia mampu mengatasi perjuangan, perubahan, dan berani bertindak.
Pandangan Epistemologi
Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui  pengalaman dan kontak dengan segala realitadalam hidupnya atau pengetahuan yang diperoleh melalui catatan.
Semakin sering menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalamansemakin besar peersiapan untuk menghadapi tuntutan zaman.
Pandangan Aksiologi
Nilai itu benar atau salah, baik atau buruk data dikatakan ada bila menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yangdialami manusia dalam pergaulan.
Progessivisme dan Pendidikan
Progesivisme = pragmatisme berdasarkan ide dasarnya dengan asas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive (mempertahankan hidupnya) terhadap semua tantangan dan harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.
Progessivisme telah memberikan sumbangan besar kepada dunia pendidikan pada abad ke 20 dimana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik dalam mengembangkan bakat dan kemampuan dirinya baik secara fisik maupun cara berfikir, tanpa terhambat rintangan yang dibuat orang lain.
Menurut aliran progessivisme kebudayaan adalah hasil budi manusia yang merupakan milik manusia yang tidak beku dan terus berkembang. Untuk itu pendidikan adalah alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan memberikan corak dan warna dari output yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang berkualitas, kompetitif, insiatif, adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zaman.
Sehingga dibutuhkan kurikulum eksperimental (kurikulum yang berpijak pada pengalaman)
Asas belajar
Bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagia potensi untuk memecahkan problema-problemanya. Sehingga pendidikan adalah wahana paling efektif sebagai proses sesuai hakikat anak didik sebagai manusia berkembang. Sehingga sekolah yang ideal adalah sekolah yang berintegrasi dengan lingkungan sekitar.
Progessivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Tujuan pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, bukan hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja melainkan melatih kemampuan berfikir secara ilmiah.
Pandangan kurikulum progessivisme
Kurikulum dipusatkan pada kurikulum eksperimental, oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman.
Progessivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus berintegrasi dalam unit, dan metode yang diutamakan adalah problem solving.
Kurikulum yang baik harus memenuhi beberapa hal:
Kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai denga jenjang pendidikan
Kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik
Kurikulum sanggup mengubah perilaku anak didik menjadi kreatif, adaptif, dan kemandirian
Kurikulum bersifat fleksible berisi tentang berbagai macam bidang studi.
Pandangan progessivisme tentang budaya
Kebudayaan adalah hasil budi manusia. Manusia sebagi makhluk berakal dan berbudidaya selalu berupaya melakukan perubahan-perubahan.
Filsafat progessivisme memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang memecahkan problema-problema hidup, telah mempengaruhi pendidikan, dimana dengan pembaharuan pendidikan telah mempengaruhi manusia untuk maju (pogress). Sehingga semakin tinggi tingkat berfikirnya maka semakin tinggi pula peradapan manusia. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang kompleks dan maju.
Aliran Essensialisme
Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang sejak awal peradapan umat manusia.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Essensialisme muncul pada zaman renaissance.
Idealisme modernmerupakan suatu ide-ide manusia sebagai makhluk yang berfikir dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi.
Pandangan ontologi essensialisme
Sifat khas dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsinbahwa dunia ini di kuasai oleh tatanan yang cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Ini berarti bahwa bagaimanpun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tatanan tersebut. Secara filosofis esensialisme dilandasi oleh prisip-prinsip klasik dari filsafat realisme dan idialisme moderen. Ontologinya dapat disebut realisme objektif, yang berpendapat bahwa kenyataan adalah sebuah pokok (subtansi) mater atau idialisme objektif yang berpandangan bahwa kenyataan itu pada pokoknya bersifat rohaniah.

Pandangan epistemologi essensialisme
Epistemologi essensialisme pada tingkat tertinggi merupakan teori persesuaian pengetahuan, yang meyakini bahwa kebenaran tampil mewakili atau sesuia dengan fakta objektif. Realisme memperhatikan pandangan tiga aliran psikologi yaitu assosianesmi, behavorisme, dan koneksionisme. Lazimnya metosde yang digunakan dalam aliran psikologi ini adalah menerapkan metode ilmu alam.

Pandangan mengenai Pendidikan
Essensialisme timbul karena adanya pandangan kaum progesif mengenai pendidikan yang fleksibel. Oleh karena adanya saingan dari progresibvisme, maka pada sekitar tahun 1930 muncul organisasi. Dengan munculnya komite ini pandangan-pandangan essensilaisme menurut tafsiran abad XX mulai diketengahkan dalam dunia pendidikan.

Pandangan mengenai belajar
Essensialisme yang didukung oleh pandangan idealisme berpendapat bahwa bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia objektif. Akal budi manusia membentuk, mengatur, mengelompokkannya dalam ruang dan waktu. Dengan prinsip itu dapat dikatakan bahwa belajar pada seseorang sebenarnya adalah mengembangkan jiwa pada dirinya sendiri sebagai substansi spritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi serta diteruskan kepada angkatan berikutnya (Barnadib:1996:56). Belajar adalah cerminan dari jiwa yang aktif
Pandangan Kurikulum Essentialisme
Essensialisme adalah suatu teori pendidikan yang menegaskan bahwa pendidikan selayaknya bergerak dalam kegiatan pembelajaran tentang keahlian dasar, seni dan sains yang telah nyata-nyata berguna dimasa lalu dan tetap demikian dimasa yang akan datang. Para essensialis percaya bahwa beberapa keahlian esensi atau dasar mempunyai kontribusi yang besar terhadap keberadaan manusia seperti membaca, menulis, aritmatika dan perilaku sosial yang beradab. Keahlian dasar ini merupakan hal yang selayaknya dan memeng dibutuhkan sehingga selalu ada dalam setiap kurikulum sekolah dasar yang baik.
Pada kurikulum sekolah pertama, kurikulum dasar seharusnya terdiri dari sejarah, matematika, sains dan sastra. Kurikulum perguruan tinggi terdiri dari dua komponen yaitu mata kuliah umum dan sains. Dengan menguasai mata kuliah ini yaitu yang berkaitan dengan lingkungan sosial dan alam, seorang siswa mempersiapkan diri untuk berpartisipasi ssecara efektif dalam masyarakat beradab.
Jadi intinya kurikulum hendaknya disusun secara sistematis, dari mulai yang sederhana sampai yang kompleks. Kurikulum direncanakan dan disusun berdasarkan pikiran yang matang agar manusia dapat hidup harmonis dan menyesuaikan diri dengan sifat-sifat kosmis.

Aliran Perennialisme
Pandangan Ontologi Perenialisme
Ontologi perenialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Secara ontologis, perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya. Benda individual di sini adalah benda sebagaimana yang tampak di hadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indra seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna, dan aktivitas tertentu. Esensi dari suatu kualitas menjadikan suatu benda itu lebih intrinsik daripada fisiknya, seperti manusia yang ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Sedangkan aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial.
Dengan demikian, segala yang ada di alam semesta ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, merupakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang ada tidak hanya merupakan kombinasi antara zat atau benda, tapi juga merupakan unsur potensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Poedjawijatna, bahwa esensi dari kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh dari potensialitasnya. Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap waktu adalah potensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini, manusia dapat makin mendekatkan diri menuju tujuan (teleologis) untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta dan tujuan akhir.
Pandangan Epistemologis Perenialisme
Perenialisme berpangkal pada tiga istilah yang menjadi asas di dalam epistemologi yaitu truth, self evidence, dan reasoning. Bagi perenialisme truth adalah prasyarat asas tahu untuk mengerti atau memahami arti realita semesta raya. Sedangkan , self evidence adalah suatu bukti yang ada pada diri (realita, eksistensi) itu sendiri, jadi bukti itu tidak pada materi atau realita yang lain. Dan pengertian kita tentang kebenaran hanya mungkin di atas hukum berpikir (reasoning), sebab pengertian logis misalnya berasal dari hukum-hukum berpikir.
Dalam pandangan Perenialisme ada hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, seraya menyadari adanya perbedaan antara kedua bidang tersebut. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa-empiris dan analisa ontologis keduanya dianggap Perenialisme dapat komplementatif. Dan meskipun ilmu dan filsafat berkembang ke tingkat yang makin sempurna, namun tetap diakui bahwa fisafat lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu pengetahuan.
Pandangan Aksiologi Perenialisme
Masalah nilai merupakan hal yang utama dalam Perenialisme, karena ia berdasarkan pada asas-asas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi, hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah jiwanya. Oleh karena itu, hakikat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran demikian bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itulah yang bersesuaian dengan sifat rasional manusia, karena manusia itu secara alamiah condong pada kebaikan.
Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki tiga potensi: nafsu, kemauan, dan pikiran. Maka pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan pada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Dengan demikian, hendaknya pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan, dan pikiran. Dengan memperhatikan hal ini, maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.
Aliran Rekonstruksionisme
Berasal dari bahasa inggris reconstruct yang berarti menyusun kembali.
adalah aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata  susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern
Pandangan ontologi
Memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat.
Tiap realita sebagi substansi selalu cenderung bergerak dan berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi)
Memandang bahwa alam metafisika merujuk dualisme: bahwa alam ini mengandung hakikat materi dan hakikat rohani.
Dibalik gerak realita sesungguhnya terdapat kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama (kausa Prima yaitu Tuhan). Tuhan adalah aktualitas murni yang sama sekali sunyi dan substansi.
Pandangan Epistemologi
Untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita tanpa melalui pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu gerbang ilmu pengetahuan.
Dasar suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self evidence yakni bukti.
Pandangan Aksiologi
Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Begitu juga halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan sikap netral, akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia. Tetapi, secara umum ruang lingkup (scope) tentang pengertian “nilai” tidak terbatas.
Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah pancaran yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Ke­mudian, manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya apabila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan.
Neo-Thomisme memandang bahwa etika, estetika dan politik sebagai cabang dari filsafat praktis, dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pada prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral, kreasi estetika dan organisasi politik. Karenanya, dalam arti teologis manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yakni bersatu dengan Tuhan, kemudian berpikir rasional. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan), hakikat sesungguhnya ialah Tuhan sendiri.
Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam, yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral, kebajikan moral merupakan suatu kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan intelektual.


Sabtu, 02 Mei 2015

Ringkasan/Resume Buku Filsafat Pendidikan Jalaluddin & Dr. Abdullah Idi part 2

Bab 3

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the Mother of Sciences) pada mulanya mampu menjawab segala pertanyaan tentang segala sesuatu dan segala masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia, deng segala problematikanya.
Namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan filsafat maka muncullah cabang ilmu yang lain. Misal filsafat pendidikan. 


Perkembangan Pemikiran Filsafat  Spiritualisme Kuno
Timur Jauh
Hindu
Pemikiran spiritualisme = adanya konsep karma dan reinkarnasi. Alam semesta ini penuh rahasia dan manusia didalamnya merupakan suatu yang mat kecil, namun memiliki arti yang besar. Sehingga manusia didorong untuk menyelidiki dan memahami alam semesta dan isinya.
Budha (Sidarta Gautama)
Meskipun ajaran budha telah disebut sebagai agama tetapi sebenarnya ia bukanlah agama karena tidak ditemukan ajaran tentang tuhan. Dalam kitab Tripitaka terdapat 8 ajaran yang akan membawa manusia menjadi mulia dan sempurna. Apabila manusia melakukan pelanggaran maka akan sengsara. Karena secara filsafat agama ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada si sunia ini terliputi oleh sengsara yang disebabkan oleh cinta yang berlebihan.
Tao (Lao Tse)
Jalan Tuhan atau sabda Tuhan, tao ada di mana-mana, tetapi tidak berbentuk dan tidak dapat
Shinto
Shinto adalah agama utama di Jepang, yang menitik beratkan pemujaan alam dan pemujaan leluhur. Shinto tumbuh dan berkemang di Jepang, sangat respek kepada alam (nature) karena ajaran-ajarannya mengandung nilai atau ekspresi. Dalam ajaran Shinto ini mengandung makna-makna filsafat, mengandung nilai motivasi dan optmik guru menjadi pegangan bagi penganutnya. Karena itu ajaran Shinto mengandung petunjuk agar umat Shinto bias menempatkan diri di alam semesta tanpa merusak dan mengorbankan alam dan isinya dan kerja keras menjadi cirri khas masyarakat jepang.
Timur Tengah
Yahudi
Tanda –tanda pemikiran filsafat:
Penguraian tt bentuk-bentuk penindasan moral dari monotheisme, peredaran, kebenaran dan bernilai tinggi.
Kaum yahudi sangat mementingkan pendidikan bagi generasinya Karena hal pokok dan lebih penting dari kekuatan militer serta adanya ganjaran-ganjaran di surga.
Selama 200 tahun, doktrin-doktrin monotheisme dan pengajaran-pengajaran etis yang penting dari orang-orang yahudi dan telah meresapi pikiran-pikiran para ahli filsafat dan para pendidik dengan menyangkut jiwa dan memberi harapan bagi masa depan kemanusiaan.
Kristen
Ajaran Kristen mengajarkan konsep tuhan.
Romawi dan Yunani: Antomorpomisme
Antomorpomisme adalah suatu paham yang menggunakan antara sifat-sifat Tuhan (pencipta) dengan sifat-sifat yang ada pada manusia. Missal tahan tuhan disamakan dengan tangan manusia.
Reaksi Terhadap Spiritualisme Di Yunani
Awal munculnya filsafat adalah dengan pengetahuan mitos. Khusus mengenai aliran filsafat spiritual ditandai dengan pemikiran yang mengutamakan kerohanian dan kejiwaan, banyak para filosof yang mencurahkan pemikirannya memenuhi dan melalui alur aliran ini. Banyak yang puas dengan aliran ini yaitu aliran idealism. Sementara aliran yang tidak puas karena aliran ini dianggap tidak ilmiah lahirlah aliran materialism. Dan kemudian muncul aliran rasionalisme yaitu pusat segala sesuatu terletak pada dunia rasio, sementara yang lain adalah objeknya.
Idealisme (Plato)
Adalah suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa, menurutnya cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak diantara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indra. Jadi yang nyata adalah idea.
Inti ajaran ini yang terpenting adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi kehidupan manusia. Roh dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma.
Materialisme
Adalah suatu aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan, dimana benda merupakan sumber segalanya. Mereka berfikir sederhana, bahwa realitas adalah sebagimana adanya. Maka realitas alam semesta ini pastilah sebagimana apa yang kita lihat yang tampak dihadapan kita, yaitu materi
Menurut Demokritos seluruh ala mini berasal dari atom kecil.
Rasionalisme
Pelopor rasionalisme adalah Rene Descrates
Aliran ini beranggapan bahwa segala sesuatu disandarkan pada rasio. Aliran ini lahir karena adanya usahauntuk membebaskan diri dari pemikiran tradisional (skolastik) sebab sudah tidak mampu menangani dan menemukan hasil terhadap ilmu pengetahuan dikarenakan aliran skolastik banyak mengadakan praduga yang berisikan angan-angan semata.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan
Suatu pandangan dunia umumnya suatu pandangan teoritis mempunyai hubungan erat denga lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan. Bagi seorang Yunani, filsafat bukanlah merupakan ilmu disamping ilmu-ilmu lain melainkan meliputi semua ilmupengetahuan ilmiah. Tanah Yunani adalah tempat permainan dimana pemikitan ilmiah tumbuh terutama bidang filsafat pendidikan.
Pemikiran Filsafat Pra-Socrates
Pada masa ini para pemikir belum puas dengan keterangan mengenai alam semesta yang diterima dari kepercayaannya. Maka mereka mencari tahu sendiri, apakah sebenarnya alam semesta ini? Apa intisarinya? Sehingga para filosof filosof ini disebut filosof alam.
Filosof alam yang terkenal pada masa ini antara lain:
Thales
Anaximandros
Anaximenes
Pitagoras
Heraklitos
Parmenides
Pada masa ini muncul pula kaum sofisme (sendekiawan) yang dipelopori oleh Protogoras. Bagi mereka manusia menjadi ukuran kebenaran, tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal,kebenaran hanya berlaku secara individual.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates
Sacrotes (Athena, 470-399 SM) merupakan pemikir besar kuno yang memiliki gagasan-gagasan filosofisnya dan pengajarannya dalam dunia pendidikan.
Prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Sacrotes adalah metode dialektis, dasar teknis pendidikan yang direncanakan dan mendorong seseorang belajar untuk berfikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperoleh pengetahuannya.
Tujuan pendidikan :merangsang penalaran yang cermat dan disiplinmental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus-menerus dan standar moral yang tinggi.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato
Plato (427-347 SM) adalah murid Sacrotes.
Pendidikan adalah tugas suatu bangsa yang harus dilaksanakan untuk kepentingan Negara dan perorangan, pendidikan itu memeberikan kesempatan kepadanya untuk penampilan kesanggupan diri pribadinya. Bagi Negara ia bertanggung jawab untuk memberikan perkembangan kepada warganya, dapat berlatih, terdidik, dan merasakan bahagia dalam menjalankan peranannya guna melaksanakan kehidupan kemasyarakatan.
Pendidikan merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran sehingga mereka akan lahir kembali (they shall be born again)
Tujuan pendidikan : untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga akan menjadi seorang warga Negara yang baik, dalam suatu masyarakat yang harmonis, melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota kelasnya.
Pendidikan harus direncanakan dan diprogramkan agar sesuai yang dididamkan yaitu sebagai berikut: sesuai tingkat usia
Tahap pertama
Pendidikan diberikan kepada taruna hingga usia 20 tahun
Tahap kedua
Dari usia 20-30 tahun
Tahap ketiga
Usia 30-40 tahun

Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato.
Pendidikan harus didapatkan oleh setiap orang agar ia hidup baik. Pendidikan bukanlah semata-mata soal akal tetapi member bimbingan kepada perasaan-perasan yanglebih tinggi, supaya mengarah diri kepada akal, sehingga dapat dipakai akal guna mengatur nafsu-nafsu.
Pendidikan yang baik adalah yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan, kebahagiaan tertinggi adalah kebahagiaan spekulatif.

Prinsip poko pendidikan adalah pengumpulan serta penelitian fakta-fakta suatu belajar induktif, suatu pencarian objektif akan kebenaran sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan.

Cerpen Anak "Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?"


"Aku menyukai cerita anak seperti aku menyukai anak-anak."
Quote di atas dengan sengaja kupasang diawal sebelum aku mengepos cerita anak yang terbit di rubrik kawanku koran kedaulatan rakyat edisi Minggu, 26 April 2015. Alasannya, aku ingin mensugesti diri sendiri. Bukankah ada orang yang bilang quote sering kali bisa membuat kekuatan sendiri bagi seseorang. :)

Saat aku selesai membaca cernak berjudul peri gigi itu ada atau tidak? karya Anastasia Yuniarti Wadhas Wulan, aku merasa bahwa ini cerpen "pas" untuk anak - anak. Seolah cerpen ini benar-benar ditulis oleh seorang anak usia sekolah dasar. Ringan-ringan saja. Aku berharap anak-anak di desa ku bisa menjadi penulis. Itu impianku, sebenarnya. Akhirnya berbekal rasa kepo yang menggunung, aku mencoba menuliskan nama penulisnya di mbah google. Dan, kekagetan yang kudapat. Penulis ternyata seorang guru di sebuah sekolah dasar. Kemudian saya berpikir, pantas saja, lha wong dia seorang guru yang dekat dengan anak-anak. Hehehe ....

Namun, ada beberapa catatan yang menurutku agak kurang pas. Maklum, aku memang sering koment, meski masih belum menjadi ahli. Yah, itung-itung sebagai proses untuk belajar. Betul tak?
1. Terlalu banyak dialog. Menurut saya lho ya.
2. Setiap mengakhiri dialog selalu diakhiri dengan tanda koma (,). Menurut para suhu di Kelas Online Bimbingan Menulis Novel (KOBIMO) tanda baca diakhir dialog itu menunjukkan ekspresi, Misal tanda seru (!) ni dipake saat kaget or teriak.
3. Pertanyaan ketiga yang masih mengganjal, sebenarnya peri gigi itu ada atau tidak. Wkwkwkwk. Lupakan.

Aku menulis ini bukan bermaksud menggurui, tetapi sebagai mediaku untuk belajar.

Sudah dulu basa-basi yang panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

Peri Gigi Itu Ada atau Tidak?

Oleh: Anatasia Yuniarti Wadhas Wulan

“Bunda, hari ini ada pemeriksaan gigi di sekolah,” kata Jessy pada bundanya.
“Lho, bagus dong.” kata Bunda.
“Iya, sih. Tapi gigi depanku keropos. Aku khawatir kalau harus dicabut,” kata Jessy.
“Sayangku dokter tidak akan sembarangan mencabut gigi. Kalau tidak goyang tidak akan dicabut. Percaya deh sama Bunda.” Kata Bunda menyakinkan .
“Iya, deh.”
Dengan langkah penuh percaya diri Jessy memasuki halaman sekolahnya. Bundanya melambaikan tangan.
Saat diperiksa, dengan mantap Jessy menunjukkan giginya kepada dokter gigi.
“Wah gigimu rapi ya. Harus rajin gosok gigi sehabis makan, agar tidak keropos.” kata dokter gigi.
Jessy kembali ke tempat duduknya dengan lega. Benar kata Bunda, giginya tidak akan dicabut.
“Eh ... gigiku sudah goyang lho. Kata dokter, itu pertanda aku sudah besar.” Kata Siska saat sampai ke tempat duduknya.
“Kok aku belum goyang, ya?” tanya Jessy cemas.
“Ha... ha...ha...,” teman – teman menertawakan.
Melihat kkegaduhan itu, Bu Guru mendekati mereka,
“Semua orang memiliki waktu yang berbeda kapan giginya tanggal.” Bu Guru menjelaskan.
“Oooo...,” seru anak – anak seperti paduan suara.
“Aku kemarin tanggal gigi bawah,” kata Yuta.
“Eh... kalau gigi bawah yang copot harus dibuang ke atas genting. Nanti gigi barunya sepat tumbuh.” komentar Anggit yang sudah mengalami tanggal gigi dua kali.
“Aku meletakkan gigiku di bawah bantal. Eh, paginya berubah menjadi kado. Mungkinkah dari peri gigi, ya?” kenang Alfito tak mau kalah.
“Memangnya peri gigi itu ada?” tanya Jessy.
“Entahlah,” sahut Anggit dan Siska hampir bersamaan.
***
 “Bunda, peri gigi itu ada atau tidak?”
“Kenapa?” tanya Bunda.
“Aku mau dapat hadiah kalau gigiku tanggal,” kata Jessy penuh harap.
“Gigimu sudah ada yang goyang?” tanya Jessy penuh selidik.
“Hiii ...,” Jessy meringis menunjukkan giginya.
“Wah anak Bunda sudah besar dong,” kata Bunda dengan rasa bangga.
“Bagaimana caranya agar dapat hadiah, Bunda?” tanya Jessy penuh harap.
“Kalau cabut gigi sendiri pasti dapat hadiah,” kata Bunda sambil tersenyum.
Betapa senangnya mendapat hadiah dari peri gigi. Tetapi Jessy masih cemas membayangkan rasa sakit ketika cabut gigi. Bunda menyarankan untuk sering - sering menggoyangkan gigi agar tidak neyri saat dicabut.
“Bayangkan hujan jam tangan dengan gambar kartun kesayanganmu,” pinta Bunda sambil mencabut gigi Jessy.
“Eh, ternyata enggak sakit ya, Bun. Kenapa berdarah ya, Bun?”
“Ya, karena ada pembuluh darah yang rusak, jadi berdarah,” jelas Bunda.
“Bunda dulu juga begitu, ya?”
“Ya.... Tapi beberapa hari kemudian gigi baru akan tumbuh dan lebih kuat.”
Jessy menunggu gigi barunya dengan senang. Apalagi dia sudah mendapat hadiah jam tangan bergambar tokih kartun kesayangannya.

Kamis, 30 April 2015

ROSULULLAH TELADAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER GUNA MENCEGAH TINDAKAN KORUPSI

Kasus korupsi di Indonesia masih menjadi tranding topik diberbagai media, baik cetak maupun elektronik. Tak ubahnya sebuah sinetron, kasus korupsi memasuki episode yang sangat panjang. Dan sulit diketahui ujungnya. Ibarat kata story never ending. Belum selesai kasus Century, muncul lagi kasus korupsi wisma altet dan hambalang, dan terakhir kasus impor daging sapi. Bahkan departemen agama yang notabenenya “tahu agama” tersangkut korupsi pengadaan Al-quran. Dari berbagai kasus korupsi yang terkuak, terlihat oknum yang terlibat korupsi semakin meluas, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, kepolisian, politisi parpol dan aparatur pemerintahan. Belum lagi ditambah kasus-kasus korupsi kelas teri yang belum terkuak dan yang tidak terkuak. Maka akan menambah daftar kasus korupsi di negeri ini. Apalagi jika melihat situasi negeri ini yang akan memasuki Pemilu 2014, diprediksi kasus korupsi akan semakin marak.
Korupsi adalah sebuah tindakan penyalahgunaan kekuasaan/jabatannya. “Mental korup” adalah budaya sosial-politik yang diwariskan turun-temurun di negeri ini. Sepanjang perjalanan sejarah Indonesia, budaya korupsi sudah ada sejak masa penjajahan colonial Belanda. Dimana biasanya dilakukan oleh para jendral yang bertugas di suatu wilayah dan pada kesempatan lain dilakukan oleh orang-orang pribumi (antek Belanda) yang menjabat sebagai demang, atau tumenggung di dalam suatu wilayah. Begitu juga pada masa Orde lama dan orde baru, korupsi merambah hampir ke semua lini kehidupan yang terjadi secara sistemik. Budaya korupsi itu pun berlanjut hingga sekarang.
Layaknya penyakit perilaku korupsi di Indonesia sudah memasuki stadium IV. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna memberantas dan mencegah tindakan korupsi. Tindakan pemberantasan dilakukan dengan membentuk lembaga independen bernama Komisi Pemberantasan korupsi. Selanjutnya tindakan pencegahan dilakukan dengan menitik beratkan pada pendidikan, terutama melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter dipandang sebagai suatu langgkah jitu mengatasi degradasi moral khususnya “watak korup” yang merupakan warisan turun temurun.  Sebagaimana pendapat Doni Koesoema A. Pendidikan karakter bisa menjadi sebuah jalan keluar bagi proses perbaikan dalam masyarakat kita. Situasi yang ada menjadi alas an utama agar pendidikan karakter segera dilakukan dalam lembaga pendidikan kita. (2007:116). Maka tak mengherankan jika kemudian jika  Kementerian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi berencana menerapkan Pendidikan Karakter Anti Korupsi dalam kurikulum prasekolah, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan perguruan tinggi.
Banyak pihak yang berpendapat bahwa pendidikan karakter pada akhirnya hanya akan menjadi pelengkap saja, dan bernasib sama dengan pengajaran moral dan agama yang berkutat pada teori tanpa diimbangi dengan praktek di lapangan. Sehingga meninggalkan PR besar yang masih kita kantongi hingga kini yakni mampukah pendidikan karakter itu membumi guna mencegah tindakan korupsi?
            Pendidikan dapat diartikan sebagai upaya untuk memanusiakan manusia. Sementara karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas seseorang dalam menjalani hidupnya serta memecahkan semua problematika kehidupannya. Sehingga pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya membentuk manusia memiliki cara berfikir dan berperilaku yang unik/khas dalam menjalani kehidupannya serta memecahkan semua problematika kehidupannya. Dalam memecahkan permasalahannya ini, yang menjadi acuan atau tolak ukurnya adalah keyakinan (agama), dan norma yang ada. Untuk itu orang yang dapat memecahkan permasalahnya dengan menyandarkannya baik pada agama ataupun norma yang berlaku dapat dikatakan sebagai orang yang berkarakter.
            Pendidikan karakter digagas dan ditawarkan dalam dunia pendidikan sejalan dengan visi pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 yaitu agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan antara lain karakter cinta kepada Tuhan, kemandirian, jujur, amanah, santun, dermawan, suka menolong dan gotong royong, percaya diri, toleransi, kepemimpinan, dan keadilan.
Pendidikan karakter, menurut pandangan saya sejatinya sudah ada sejak Adam dilahirkan berlanjut hingga pada masa nabi Muhammad yang diutus sebagai penyempurna pendidikan karakter tersebut. Tentu, meskipun dahulu tidak disebutkan bahwa aktivitas para nabi adalah pendidikan karakter. Namun pada hakikatnya aktivitas-aktivitas yang dilakukan para nabi dan Rosul adalah aktivitas membentuk karakter yang khas bagi manusia untuk mengatasi problematika kehidupannya. Pada masa Rosul Muhammad Saw, pembentukan karakter dilakukan dengan pembinaan para sahabat Rosulullah di rumahnya Arqom. Pembinaan yang dilakukan adalah pembinaan  komprehensif dan integral, mencakup seluruh aspek kehidupan, terutama pembinaan tentang akidah karena akidah adalah pondasi pokok keimanan. Ibarat sebuah bangunan, akidah adalah tiang penyangga bangunan tersebut. Dari rumah itulah lahirlah sosok-sosok sahabat yang berkarakter khas dan unik sesuai ajaran islam. Dengan karakter itulah Rosulullah dan para sahabat menjalani hidupnya di masyarakat serta berupaya menyebarkannya karakter itu kepada orang-orang quraisy.
Maka jika melihat perjuangan Rosulullah dalam membentuk karakter para sahabat dan dicocokkan dengan konteks sekarang, situasi pada masa Rosulullah hampir sama dengan kondisi saat ini. Saat itu di Arab dilanda kejahiliyahan baik dalam berfikir maupun dalam bertindak. Culas, serakah, korupsi, memakan harta riba, hingga membunuh bayi perempuan. Jika menengok era kinian kondisi di arab saat itu sebelas dua belas dengan saat ini. Dengan mencontoh pendidikan karakter  yang Rosulullah terapkan kepada para sahabat, keluarga dan masyarakat luas, ada beberapa poin yang patut saya garis bawahi. Pertama, Komitmen. Rosulullah dari awal telah memiliki komitmen yang kuat dalam membenahi tatanan kehidupan saat itu. Banyak orang Quraisy saat itu mencemooh dan menganiaya tindakan Rosulullah, bahkan percobaan pembunuhan pun tak bisa dielakkan. Sekalipun demikian, tidak pernah ada selintas pemikiran untuk menyerah. Dan komitmen inilah yang semestinya dimiliki oleh 3 aspek pendidikan karakter yakni keluarga (orang tua), sekolah (pendidik) dan masyarakat untuk mewujudkan tercapainya keberhasilan pendidikan karakter. Tidak terpenuhinya salah satu aspek di atas akan membuat pendidikan karakter menjadi mentah.

Kedua, Menanamkan karakter sejak usia dini. Sepertinya Rosulullah sangat paham, bahwa usia dini adalah masa yang sangat menentukan kesuksesan anak menghadapi tantangan zaman sehingga beliaulah yang mendidik putri-putri mereka dengan pengajaran dan keteladanan. Beberapa pakar menyatakan bahwa usia dini disebut juga golden age (masa-masa umur emas). Pada usia dini, anak- anak dapat menyerap berbagai macam memori. Karakter apa yang diajarkan orang tua ataupun pendidik akan diserap dengan cepat. Misalnya ketika anak merusak sesuatu kemudian di pukul maka karakter yang terbentuk adalah anak penakut. Pada usia ini, keluarga dalam hal ini orang tua harus memberikan penguatan akidah. Disamping juga pengetahuan-pengetahuan/maklumat yang benar. 

MEDIA PEMBELAJARAN AUDIOVISUAL PAI (BAB THAHARAH)


Dulu, ketika semester 6, aku dan beberapa temanku mendapat tugas membuat media pembelajaran PAI berupa Audio visual. So kita disuruh membuat movie menggunakan movie meker. 

Alhamdulillah saat itu aku nyambi kerja part time di sebuah warnet yang fasilitas PC nya keren, sudah windows 8. hihihi ..... dengan sedikit ketelatenan dan kecermatan jadilah sebuah media pembelajaran audiovisual seperti di bawah ini. Lega rasanya. 

Dan sebuah kehormatan, ketika dosen meminta kami (aku dan Nuryani ) untuk membuat movie untuk Penerimaan Mahasiswa Baru. 

Saat movie ini akan diuplod di sini ternyata file kebesaran. Untuk uplod aja penuh perjuangan. Sehingga kukonvert dulu di format factory. Awalnya kuubah menjadi mp4 tapi masih terlalu besar sehingga aku harus mengubah lagi menjadi 3gp. padahal sayang banget, kualitas gambarnya jadi jelek. Hmmm tapi tak apalah.

Rabu, 29 April 2015

Cernak "Si Jago Merah"


Seperti biasa, ketika jam dinding menunjukkan angka 6 lewat 30 menit, Banu telah siap dengan tas ransel di punggungnya dan siap berangkat ke sekolah. Setelah sarapan ia menghampiri ibunya untuk pamit ke sekolah dan mencium tangan ibu. Biasanya setelah mencium tangan ibu ia akan diberi uang saku. Tapi tidak untuk hari ini.
“Maaf Banu, hari ini ibu tidak memberimu uang saku. Uang ibu sudah habis untuk membeli beras dan ikan asin kemarin sore.” Kata ibu pelan. Banu melihat raut wajah ibunya sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa Ibu. Banu mengerti.” Jawabnya ringan.
Setelah itu Banu mengambil sepedanya dan pergi ke sekolah. Taklupa ia mengucapkan salam kepada ibunya.
Di tengah perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba sepeda Banu oleng. Paku mengenai sepeda Banu yang mengakibatkan ban Banu bocor. Karena jarak sekolah sudah dekat, akhirnya Banu menuntun sepedanya sampai sekolah.
Sebenarnya tadi Banu ingin mampir ke tukang tambal ban di dekat sekolah, tapi Banu teringat bahwa tadi pagi ia tidak mendapat uang saku sehingga ia akhirnya membawa sepedanya yang bocor ke sekolah.
Sampailah Banu di depan pintu gerbang sekolah, ia bertemu dengan Ahmad, teman sebangkunya.
Mad. Banku bocor nih.”
“Kenapa tadi tidak langsung mampir ke bengkelnya Pak Dodon. Kan enak, sepulang sekolah tinggal diambil.”
“Rencana seperti itu Mad, tapi hari ini lagi tidak bawa uang.”
“Kalau aku punya uang pasti aku akan meminjamimu dulu Ban. Uang sakuku hari ini juga tidak cukup. Hanya 2000 rupiah.” Ahmad merasa kasihan kepada Banu, sahabatnya.
“Tidak apa-apa? Nanti saja setelah pulang sekolah aku akan ke tukang tambal ban.”
“Kalau begitu nanti aku temani Ban, gimana?” Ahmad menawarkan diri menemani Banu sebagai wujud kasihan dan tolong menolong sesama teman.
“Oke. Terimakasih Ahmad.” Ucap Banu sambil tersenyum bahagia.
***
            Setelah pulang sekolah Ahmad menemani Banu ke Bengkel Pak Dodon yang terletak tidak jauh dari sekolah.
“Pak, mau nambal ban.” Kata Banu kepada Pak Dodon. “Tapi saya tinggal dulu, nanti saya ambil sore.”
            “Baiklah. Sebelum jam 4, ya Nak. Soalnya jam 4 bengkel bapak sudah tutup.”
            “Iya Pak. Insyaallah kami akan datang sebelum jam 4.”
Pulangnya Ahmad mengantarkan Banu sampai di rumah dengan sepedanya. Sampai di depan rumah, Ibu Banu telah duduk di teras rumah sambil mengerjakan anyaman enceng gondoknya. Ibu Banu heran mengapa Banu diantar oleh Ahmad. Karena begitu penasarannya, Ibu Banu bertanya sebelum Banu mengucapkan salam.
            “Ada apa dengan sepedamu Ban?” Banu terlihat takut. Roman mukanya sedikit pucat. Ia takut ibu marah padanya.
            “Mmmm, bocor ibu, sekarang ada di bengkel.” Jawab Banu hati-hati. Kemudian ia mendatangi ibunya dan mencium tangannya.
            “Ooowh, ya sudah tak apa-apa. Tapi ibu belum punya uang. Nanti malam saja minta uang sama ayahmu.” Ayah Banu adalah lelaki yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Ayah Banu bekerja menjadi kuli bangunan sehingga ia harus pergi bekerja pagi sekali dan pulang ketika mahgrib menjelang.
            “Tapi bu, Banu sudah berjanji kepada Pak Dodon akan mengambil sepedanya sebelum jam 4 sore nanti.” Protes Banu.
            “Ya, terus bagaimana, uang pemberian Ayah sudah habis. Kamu tahu sendiri. Tadi pagi juga ibu tidak memberimu uang saku.” Ibu memberikan penjelasan sembari tangannya asyik dengan anyamannya. “Ya sudah, makan dulu sana. Nanti ibu carikan pinjaman pada Bu Lik Gina.”
            Banu meninggalkan ibunya. Setelah ganti baju dan cuci tangan ia menuju ke meja makan. Ia makan siang dengan nasi dan ikan asin, makanan kesukaannya. Ketika makan ia terus berfikir tentang ibu, pinjaman pada Bu Lik Gina, janji dan sepedanya. Banu tak ingin memberatkan ibunya dengan meminta pinjaman kepada Bu Lik Gina.
            Akhirnya setelah makan ia menuju ke kamarnya dan mengambil si jago merah, celengan plastiknya. Banu memang tergolong anak yang rajin menabung. Sebagian uang sakunya ia tabung. Sekalipun itu hanya 1000 atau 500 rupiah. Dengan bantuan sepotong lidi Banu mengutik-atik celengannya. Satu-persatu uang 500 an berhasil keluar. Hingga akhirnya terkumpul menjadi 5000 rupiah. Cukuplah untuk membayar jasa menambal ban.
            Setelah itu Banu menemui ibunya.
            “Ibu, Banu sudah punya uang. Jadi bu tidak usah meminjam kepada Bu Lik Gina.”
Ibu Banu sesaat heran tetapi kemudian bibirnya melengkungkan senyum. Pasti dari celengan jagonya, pikir ibu. Ia merasa bangga memiliki anak seperti Banu yang selalu mengerti kondisi keluarganya. Bahkan Banu tak pernah mengeluh ketika tidak diberi uang saku.
“Banu, pergi dulu, Ibu. Mau ke rumah Ahmad. Dia mau mengantarku ke bengkel. Assalamu’alaikum.” Kata Banu sambil berlari ke halaman.
“Banu, kamu melupakan sesuatu.” Teriak Ibu.
Banu berhenti lalu berfikir. Iapun kembali menemui ibunya.
“Apa ibu?” Tanya Banu
“Lupa cium tangan ibu,” jawab ibu sambil tersenyum. Banu tersenyum sambil mencium tangan ibu. Cium tangan ibu atau ayah merupakan kebiasaan yang Ibu Banu tanamkan sejak Banu masih kecil.
“Hati-hati ya Nak!”
“Iya ibu.”
Banu pergi dengan hati senang ke rumah Ahmad.

***

Resensi Buku " Sukses menjadi Penulis Cilik"


Judul buku : Kids Writer
Penulis : Eni Setiati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 90 Halaman
ISBN : 978-979-22-5743-4

Banyak anak yang berhasrat menjadi penulis hebat seperti penulis idola mereka. Sayangnya hasrat itu tidak dibarengi dengan action nyata yaitu menulis. Anak-anak cenderung mudah bosan dan malas berlatih. Pada kenyataannya 100 persen anak belum fokus dan belum memiliki komitmen untuk menjadi penulis hebat. Hal ini dipengaruhi oleh stigma bahwa menjadi penulis adalah bakat.

Hambatan-hambatan penjadi penulis pada hakikatnya juga menjadi momok bagi penulis usia dewasa.
Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan fasilitas penunjang agar anak dapat menghasilkan karya yang hebat berupa buku-buku yang baik.

Buku ini adalah salah satu buku yang cocok di baca oleh anak-anak yang bermimpi menjadi penulis hebat. Di dalam buku ini disajikan cara menulis dari awal pencarian ide sampai menerbitkannya, baik itu penulisan fiksi maupun penulisan nonfiksi. Bahkan yang menjadi adalah pemaparannya disertai dengan latihan-latihan yang merangsang otak untuk mencobanya.

Penulis menyusun buku ini sesuai dengan pengalaman pribadinya selama malang melintang di dunia jurnalistik, sehingga pembaca tidak perlu lagi ragu. buku ini juga dilengkapi dengan alamat penerbit sehingga calon-calon penulis cilik yang hebat tidak perlu khawatir kemana akan mempublikasikan karyanya.

Ringkasan/Resume Buku Filsafat Pendidikan Prof, Dr, H, Jalaluddin & Dr. Abdullah Idi, M. Ed

.

BAB I
PENDAHULUAN 1
Filsafat atau falsafat berasal dari kata Philore dan Shopia dari bahsa Yunani kuno. Philore berarti cinta dan Shopia berarti kebijaksanaan, kebaikan, kebenaran, cinta, hikmah. Filosof adalah orang yang mencintai hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Juga mencari hakekat sesuatu, berusaha menautkansebab dan akibat serta berusaha melakukan penafsiran atas pengalaman-pemgaaman manusia.

BAB 2
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP BAHASAN FILSAFAT PENDIDIKAN
  1. A.    Pengertian Filsafat

1.      Menurut Imam Barnadib
Filsafat adalah pandangan yang menyeluruh dan sistematis. Menyeluruh karena filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan melainkan juga suatu pandangan yang dapat menembus sampai di balik pengetahuan itu sendiri. Sistematis karena filsafat menggunakan berfikir secara sadar, teliti, teratur sesuai dengan hokum-hukum yang ada.

Senin, 27 April 2015

Kirim Cerita Anak/Dongeng ke Media? Siapa Takut!


Dulu, dulu sekali, aku pernah mengirimkan sebuah cerita anak (Cernak). Aku masih sering menulis. Menulis yang ringan-ringan saja. Aku lebih senang menulis cerita anak ketimbang cerita remaja.

Tadi, beberapa jam yang lalu seorang tema di Facebook sedang meneguk manisnya bahagia ketika dongengnya tembus media Padang Ekspres. Aku ikut bahagia. hal itu membuatku termotivasi untuk menulis, mengirim dan melupakannya.

Jumat, 24 April 2015

Ketika Cinta Mengalir dalam Darah

Sumber Gambar

   "Ketika cinta mengalir dalam darah." kataku pada Yulia. Yulia terbahak, gigi gerahamnya yang ada tambalan sampai terlihat.
Aku mengerucutkan mulut, tak suka Yulia tertawa macam itu.
"Judulnya memang terkesan ngeri, tapi aku akan membuat ceritanya ringan kok." belaku.
Yulia nampaknya membaca perubahan roman mukaku, dengan menggebu kemudian ia berujar."Penasaran! Jadinya kaya apa? Jangan kaya blood ya, endingnya kagak jelas." Tak lupa ia memamerkan rentetan gigi kelincinya.

7 Template Blogger Seo Friendly

Sumber Gambar

Pagi semua, Eh siang ding ....!

Sebelumnya saya minta maaf kalau untuk postingan ke depannya, saya akan memakai kata "GUE" sebagai pengganti kata aku/saya. Why? Sebab saya lagi ingin membiasakan diri memakai kata "GUE-LO," itung-itung sebagai latihan nulis novel saya. hihihihihi....

Pada awal mulanya postingan ini gue pos, gue rada gimana gitu. 
"Masak gue kasi judul 7 Template Blogger Seo Frindly, emangnya tau apa gue tentang Seo." batin gue. Itu tadi yang ngomong sisi kiri gue yang selalu menggembosi. 

Jujur gue kagak tau sama sekali.